Ketika anakku Lucy pacaran dengan Tono, aku terkesima, melihat
gelagatnya. Diasuka tersenyum padaku. Aku yakin, dia seorang play boy.
Tapi demi anakku, aku berusaha tenang, atas sikapnya yang suka genit
padaku. Mulanya aku melarang dengan cara halus, agar Lucy tidak pacaran
dengan Tono, tapi Lucy bersikeras, akan menjadikannya sebgai suami.
Akhirnya terpaksa kuterima lamarannya, karean Lucy sudah hamil tiga
bulan lebih. Sebagai janda, aku sedih memestakan pernikahan anakku
satu-satunya. Oh ya, kenalkan namaku Manda, umurku 38 tahun, ukuran
Payudara 36D.
Sebagai janda, aku memang suka mencari brondong. Jelasnya aku seorang
tante girang. Aku butuh sex. Butuh kenikmatan, walau usiaku sudah 38
tahun. Saat aku digoda oleh Tono, waktu dia mengantarku ke kantorku, aku
menepisnya dan memarahinya. AKu buka usaha sendiri, memang aku seorang
pngusaha wanita yang sukses.
"Awas kamu kalau kamu berani-berani lagi menggodaku," bentakku di atas
mobil, saat dia mulai meraba pahaku. Anehnya, dia hanya tersenyum dan
terus menggodaku.
Jika aku salah, inilah kesalahanku. AKu sangat butuh sex. Akhirnya, aku
tak sadar, kalau Tono membuntutiku. Di puncak, aku dipergokinya sedang
mesra-mesraan dengan seorang pemuda berusia 21 tahun, tiga tahun lebih
muda dari Tono menantuku. Aku demikian pucat dan gemetar. Dengan
galaknya, Tonomenampar laki-laki brondong itu dan mengusir-nya, sampai
bibirnya berdarah. Anak brondong itu pun pergi.
"Maafkan ibu, Ton," kataku berbasa-basi.
"Mama munafik. Ketika aku mendekati mama, mama jual mahal," katanya.
"Tapi aku kan mertuamu?"
"Yang jelas, mama perempuan dan aku laki-laki. Mama jauh lebih cantik
dibandingkan Lucy," katanya merayuku. Di tanganku masih tergenggam kunci
kamar. Memang kami belum sempat masuk kamar. Baru asyik duduk mesra dan
laki-laki brondong itu sedang memelukku dan mencium bibirku dan aku
balas memeluknya. Saat asyik demikian, aku dipergoki oleh Tono dan aku
tak bisa mengelak lagi.
Tono merapatkan tubuhnya padaku. Aku dipeluknya dan mencium bibirku di
balik taman kecil di sebuah sudut di Puncak. Elusannya, membuatku
bergidik. Aku tak mampu mengelak, karean sebenarnya sejakawal bersama
laki-laki brondong tadi, aku sudah horny. Tono pun meremas buah dadaku.
Walau buah dadaku masih terbungkus oleh bra dan pakaian, terasa
remasannya demikian menggairahkan diriku. Tono pun menarikku ke kamar.
Di sentapnya kunci dari tanganku dan dia membuka pintu. Begitu masuk,
dia langsung mengunci kamar. Aku deg degan.
Tono langsung menyergapku. Aku dipeluknya. Aku berusaha menolaknya, karean dia menantuku.
"Mama... jangan main-main ya. Mama sudah melakukan kesalahan besar,"
ancamnya. Aku terdiam tak berkutik. AKu takut, diamelaporkan hal ini
pada anakku Lucy. Selama ini aku adalah segala-galanya bagi Lucy. Akulah
malaikatnya dan akulah panutannya.
Tono mengecup bibirku dengan lembut sekali. Sebalah tangannya
meremas-remas pantatku. Lidahnya bermain dalam mulutku. Aku pun tak
mampu menolaknya dan aku memberinya respons. Lidah kami bertautan.
Satu-satu pakaianku lepas dari tubuhku. Sekujur tubuhku dia jilati. Dia
berjongkok di lantai dan aku masih berdiri dalam keadaan bugil. Lubang
vaginaku dijilatinya, Klitorisku dihisap-hisapnya. Aku cepat basah.
Terasa nikmat sekali. Tak pernah ada laki-laki demikian pintar
mempermainkan klitorisku dengan lidahnya. Saat dia berjongkok itu, dia
melepas pakaiannya. Kami sudah bertelanjang bulat berdua.
Tono memelukku dan menggendongku lalu merebahkan diriku ke atas ranjang.
Kembali klitorisku dijilat dan dihisap-hisapnya. Aku mengelinjang. Tono
masih berjongkok di lantai. Kedua kakiku berada di bahunya. Lidahnya
bermain di vaginaku. Sesekali dia menjilati duburku. Aku menggelinjang.
Aku tak yakin Tono mau menjilati lubang duburku. Ujung lidahnya aku
rasakan memasuki lubang duburku. Setidaknya dua tiga centimeter. Lalu
lidah itu dia putar-putar dalam duburku. Oh... aku seperti tidak
mengetahui aku berada di dunia mana. Dia demikian pintar dan sangat
pintar bahkan.
"Ayo Ton... dimasukin..." jeritku.
"Sebentar, Ma. Tungu mama orgasme dulu," katanya terus menjilati memekku
menghisap-hisap klitorisku, bergantian menjilati lubang duburku.
Tak tahan aku atas perlakuannya. Kuremas-remas rambutnya. Akhirnya aku
menjepit kepalanya dengan kuat melepaskan orgasmeku. Saat aku menjepit
kepalanya dengan kedua pahaku, saat itu, jilatannya semakin
menjadi-jadi. Aku pun melepas nikmatku yang luar biasa. Sampai aku
terkulai. Nafasku ngos-ngosan. Alu lemas.
"Bagaimana, Ma... Nikmat?" Tono tersenyum manis sekali dalam
pandanganku. AKu tak menjawab, hanya memejamkan mataku saja dengan
mengatur nafasku. Pipiku diciumnya denga lembut dan penuh kasih sayang.
Leherku dikecupnya dan buah dadaku dia elus-elus dengan lembut. Oh....
Aku merasakan vaginaku sudah sangat basah. Aku merasakan ada lendir yang
meleleh dari celah vaginaku. Bagaikan bayi, aku diperlakukan dengan
kasih sayang oleh Tonio. Aku merasakan elusannya yang demikian lembut
menghanyutkan diriku. Lidahnyabermain pqda pentil payudaraku. Tangannya
mengelus-elus vaginaku yang basah. Ketiakku dia jilati, leherku,
telingaku dan sekujur tubuhku, sudah basah oleh ludahnya. Sampai
akhirnya lidahnya kembali bermain di vaginaku yang basah dan berlendir.
Aku mendengar lidahnya menjilati vaginaku dan menelan lendir yang keluar
dari vaginaku itu. Oh... tak pernah seorang laki-laki pun melakukan hal
ini padaku.
Aku menggelinjang dan ingin meminta agar Tono memasukkan kontolnya
kedalam vaginaku. Suaraku sudah susah keluar. Kuraba kontolnya dan
kutarik tubuhkua agar menindihku. Kutuntun kontolnya memasuki liang
vaginaku. Uh...
Aku sangat terkejut. Lubang vaginaku terasa penuh oleh kontolnya.
Perlahan dia mendorong kontolnya ke dalam vaginaku. Perlahan dia
menariknya. Saat dia tekan, aku merasakan semua lubang vaginaku penuh.
Aku baru sadar, kalau kontolnya demikian besarnya. Walau aku tak melihat
dengan jelas, aku dapat merasakan, kalau belum pernah merasakan kontol
yang demikian besar dan panjang. Mungkin sudah ratusan laki-laki muda
yang memasukan kontolnya ke dalam vaginaku dan aku membayarnya. Selama
ini, aku selalu meremehkan laki-laki, agar bayarannya bisa didiskon. Dan
biasanya mereka menerimanya saja, karena aku mengatakan aku tidak dapat
dipuasinya. Tapi Tono, tak mungkin aku mengatakannya demikian, karean
aku kewalahan dibuatnya.
Secara teratur, Tono mencucuk dan menarik kontolnya di vaginaku.
Iramanya teratur, dan tusukannya mengganjal jauh di lubang pepekku. Aku
benar-benar tak bisab berbuat apa-apa selain memberinya respons yang
hangat. Biarlah aku melupakannya sebagai seorang menantu. Tono benar,
dia laki-laki dan aku perempuan, walau ada hubungan menantu dan mertua.
Aku tak tahu malu lagi. Aku mengerang-erang kenikmatan. mendesis-desis
dan memeluknya kuat-kuat.
"Ton... ayo tembak sayang. Mama sudah mau sampai ni..." desisku. Tono
memelukku dan mempercepat cucuk-tariknya di vaginaku. Dan... aku tak
mampu menahannya dan memeluknyasemakin kuat. Demikian Tono memelukku
erat sekali dan menekankuat-kuat dalam gayakelembutannya, tapi aku
merasakan kebuasan di balik kelembutannya itu.
Crot...crooot...croooot.... Lendirnya yang banyak menyemprot di dalam
pepekku. AKu merasakan kehangatannya dan aku juga melepaskan
kenikmatanku. pepekku basah sekali.
Tidak seperti laki-lakilain. Selesai melepaskan spermanya, dia langsung
membelakangaiku. Tono tidak. Dia justru mengecup bibirku dan membelai
rambutku. Layaknya aku diperlakukan seperti anak bayi. Aku pas sekali.
"Bagaimana, Ma? Puas kan???" bisiknya dengan nafasnyayang masih belum teratur. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.
"Mama semakin cantik saja, Ma. Senyum mama menggodaku. Aku mau lagi..." bisisknya.
"Gila kamu Ton. Istirahat dulu. Mama gak sanggup." Dia tersenyum manis
dan membelai-belaiku. Sepuluh menit, aku ke kamar mandi mencuci
vaginaku. Tono mengikutiku dan dia juga membersihkan dirinya. Seusai
kecing dan melap dengan handuk, Tono memelukku dari belakangdan menciumi
tengkukku. Aku merinding.
"Sudah sayang, nanti lagi," kataku. Tono tak melepas pelukannya dan
terus menjilati tengkukku. Dia rapatkan kontolnya ke lubang anusku.
"Jangan sayang. Pasti sakit," tolakku. Tono terus merangsangku.
"Nanti mama akan tau, bagaimana nikmatnya. Sakitnya hanya satu menit
tapi nikmatnya sepanjang hidup," katany merayu. Aku digendongnya ke
ranjang, menelungkupkan diriku. Dijilatinya lubang anusku. Lama juga dia
menjilati anusku. Aku merasakan lubang anusku mulai kemat-kemit dan
basah oleh lidahnya.
"Mama menungging, Ma," pintanya. Aku mengikutinya. Kontolnya mulai
menyentuh lubang pepekku. Dua cuck cabutdan cucuk cabut. Aku merasakan
enaknya. Laludia menahan cucukannya di lubang anusku, dan perlahan
diamulai menekannya. Aku merasakan enak. Takan lalu dia hentkan bebarapa
saat. Kemudian diatekan lagi, dia hentikan, dia tekan lagi dan akhirnya
aku merintih, karean mulai terasa sakit.
"Sabar, Ma, " katanya menahan kontolnya. Aku merasakan dinding anusku
diludahnya. Tono berdiri di lantai dan aku menungging di tempat tidur.
Tono meminta agar aku mengembang kempiskan anusku. Tak terasa, aku pikir
dia sudah menahan kontolnya, tapi dia menusuk kontolnya sangat
perlahan-sekali, sampai tidak terasa kontol itu sudah habis memasuki
anusku. Pantatku di remas-remasnya. Sesekali dia juga meremas kedua
tetekku dan menjilati punggungku. Tono menarik kontolnya perlahan dan
aku merasakan nikmatnya. Sebelah tangannya mengelus-elus klitorisku.
Kemudian diamencucuk kontolnya lagi dan menariknya, semua berjalan
dengan operlahan-lahan dan lembut. Akupun mulai merasakan nikmatnya.
Makin lama, makin cepat cucukan kontolnya pada anusku. Aku menikmatinya
sampai aku menjerit histeris kenikmatan. Aku [un merasakan kontolnya
mengcil dan keluar dari anusku. Saat itulah kenikmatan kedua kaliya tak
dapat kubendung.
"Bagaimana, Ma? Sakitnya hanya sekejap kan. Tapi nikmatnya...?"
"Ah. Kamu ada-ada saja, Ton," kataku genit. Aku sudah lupa kalau dia menantuku.
Tak lama, kami pun ke kamar mandi. Kami mandi abersama dalam bathtub.
salig emnyabuni dan begitu mesranya. Tak pernah lai-laki memperlakukan
aku sedemikian mesra. Kami pun pulang bersama. Dia menyetirmobi, karean
menurutnya, ketika dia membuntutiku, dia naik taksi.
Hatiku sangat berbuga-bunga
Setelah sekian banyaknya brondong yang aku pakai, aku harus mengakui
kehebatan menantuku. Tapi haruskah? Dia menantuku. Tapi godaannya,
selalu membuatku selalu ingin disetubuhinya. Haruskah aku berbagi kontol
dengan anakku sendiri? Kontol itu adalah kontol menantu Tono.
Tono seorang bertubuh atletis, karean dia rajin Fitness. Tinginya 176
Cm. AKu sendiri hanya 164 Cm dengan berat badanku hanya 56 Kg. Jika
berjalan denganya, orang selalu usil dan mengatyakan aku seperti masih
brondong pula, karena tubuhku.
Kami pagi, aku, Tono mengantarkan keberangkatan Lucy anakku untuk
mengikuti studi banding dari kantornya ke Sulawesi. Dia akan pulang
Senin pagi. Pukul 09.20 pesawatnya take off dari bandara. Dengan cepat
kami menuju mobil. Tono meminta agar kami ke rumah saja, karena dia
sudah ingin bersetubuh denganku. Dia tak masuk kerja dan minta izin
melalui HP, dengan alasan sakit. Aku tersenyum.
"Kamu harus ikuti syarat ku."
"Apa itu?"
"Aku harus kamu puasi selama beberapa hari ini. Dan tidak mau dari
dubur. Aku mau kamu bor vaginaku sampai aku sangat puas. Bagaimana
setuju?" Tono mengangguk dan tersenyum tanda setuju. Kami pun tiba di
rumah
Begitu garasi tertutup, kami langsung menguci gerbang dan semua jendela
kami tutup, lalu kami menghidupkan lampu teras. Seakan kami tidak berada
di rumah. Sebelumnya kami sudah mempersiapkan cemilan untuk persiapan
kami tidak keluar rumah sampai Senen pagi kami menjemput Lucy ke
Bandara. Aku melepaskan semua pakaianku, hingga bugil. Kupaksa Tono
untuk berbugil juga. Kuajak dia ke lantai tiga yang luas. Rumah kami
adalah rumah tertinggidi antara penduduk. Di lantai tiga, ada tembok
setinggi 180 Cm untuk menjemur. Juga ada kursi dan meja tempat
bersantai. Bir dan cemilan sudah tersedia. Tono memelukku dan menciumi
tuuhku. Diangkatnya aku ke atas meja dan dia mulai menjilati sekujur
tubuhku. Aku demikian merasa melayang dan nikmat.
"Manda... ayo sayang, aku pangku," katanya. Aku terkesima, Tono
memanggil namaku. Ada panggilan sayang darinya membuatku semakin
melambung. Tono duduk di atas kursi dan aku diangkatnya mengangkangi
tubuhnya dan memasukkan kontiolnya ke memekku. Aku memeluknya. Tono
menuang bir ke dalam galas besar bercampur es dan meneguknya. Aku
kebagian juga.
"Kamu milikku. Aku tidak mencintai Lucy. Aku mencintaimu," katanya jujur. Aku terkejut.
"Kenapa bukan aku saja yang kamu lamar ketika itu?"
"Aku tak mau kau tertawai aku, karena perbedaan usia kita. Kuputuskan
melamar Lucy dan aku yakin, aku pasti akan mendapatkanmu dengan berbagai
cara."
"Kini?"
"Ya... Kini kau milikku. Upayakan bagaimana caranya kamu tidak hamil,"
katanya. Aku meganguk dan menikmati penuhnya memekku diisi oleh kontol
penantuku Tono. Ditariknya rambutku, hingga wajahku mendongak. Dia
tuangkan bir dari mulutnya ke mulutku. Aku meneguknya. Matahari semakin
meninggi. Kami berkeringat. Tubuhku kami penuh kerinat. Lelehannya kami
biarkan demikian saja. Aroma tubuh kami menyatu, membuat aku semakin
bergairah.
"Pernahkah kau menemukan kenikmatan seperti yang aku berikan, Manda?"
Aku menggeleng. Memang harus kuakui, kehebatannya. Dia mampu tidak
orgasme selama satu jam, walau dia terus memompa memekku. Apa lagi diam
seperti ini. Tono membuka roti dan menyudorkannya ke mulutku. Kami makan
roti sembari berpelukan. Sebuah handuk kecil dia ambil dari jemuran tak
jauh dari tempat duduk kami. Dia melap tubuhku dn tubuhnya, karena
ceceran keringan kami yang berlebihan.
"Aku ingin kamu pompa di tempat tidur," pintaku.
"Di atas meja saja, ya?" Akhirnya aku mengangguk. Diangkatnya tubuhku
dan diletakkannya ke atas meja. Ketika diaberdiri, kontolnya persis ke
memekku dalam keadaan berdiri. Diisapinya tetekku dan dijilatinya.
Diremas-remasnya lalu vaginaku dia pompa dengan teratur. Setiap
kontolnya dia tarik, aku merasakan gesekan yang sempurna, demikian juga
ketika kontolnya dia cucuk. Aku orgasme. Lendir banyak meleleh dari
vaginaku.
"Berhenti sebentar sayang. Aku sudah orgasme," kataku. Tono tersenyum.
Dia berikan aku seteguk bir dingin menyegarkan kerongkonganku. Kemudian
dia menarik tanganku dan aku dipeluknya serta digendongnya. Kontolnya
masih tegang dan aku dibawanya berjalan-jalan di lantai tiga itu dalam
gendongannya. Sebelah tangannya menopang pantatku dan sebelah memelukku.
Telingaku dikecupnya dengan lumat.
"Kamu adalah kelinciku yag paling manis," bisiknya.
"Puaskan aku. Aku ingin kepuasan. Aku tak puas dalam sex," kataku berbisik pula di terik mata hari panas.
"Ya... sebentar lagi, aku akan membuatmu orgasme," bisiknya.
"Bawa aku ke tempat tidur dan tindihlah tubuhku," pintaku. Tono
tersenyum Dia berjalan membawaku menuruni tangga ke lantai dua. Dia
tolak pintu dan kami memasuki kamar tidurku yang luas. Tono duduk di
sisi tempat tidur dan mengelus-elus tubuhku yang masih banjir keringat.
Diisapinya tetekku dan pentilku sesekali digigitnya.
"Ayo telentangkan. tindih aku dan pompalah sepuasmu, sampai aku orgasme
lagi," pintaku. Perlahan Tono melentangkan tubuhku di atas ranjang. Dia
menindihku dengan menopangkan kedua tangannya di sisiku. Wajahku, pas
pada pentil payudaraku. Aku mengisapinya dan menggigit-gigit perlahan
pentil itu. Kuremas pantatnya dan kukang kangkang kedua kakiku, agar
kontolnya bebas memompaku.
Turun naik pantatnya dan keluar masuk kontolnya, membuatku benar-benar
melayang. Gesekan-gesekan kontolnya pada dinding memekku, terasa
demikian indah. Ujung kontolnya terasa menyundul-nyundul jauh di dalam
memekku. Aku tersedak-sedak dan membuatku seperti tak mampu mengeluarkan
kata-kata.
"Kontolmu luar biasa, Ton," bisikku.
"Man, Memekku juga sayang. Aku tak puas-puasnya dengan memekmu. Bibirmu,
lidahmu yang demikian menggairahkan," bisiknya pula. Tak ada lagi malu
di antara kami. Aku sangat menikmatinya.
"Aku mau keluar. Kau sudah siap sayang?"
"Siap Ton. Semprotkan spermamu yang banyak dan berkali-kali," pintaku.
Tono menekan kontolnya kuat ke dalam memekku dan menindihku dari atas
dengan penuh. Crot..croot.. crooottt... Sperma itu terasa memenuhui
ruang memekku dan aku merasakan kehangatannya yang luar biasa, sampai
aku memeluknya dengan kuat pula dan melepaskan nikmatku. Kami berpelukan
kuat, kemudian Tono menarik selimut untuk menutupi tubuh kami. Kami
terus berpelukan.
Setelah membersihkan tubuh kami, kami turun ke lantai bawah dan makan
bersisian. Kami makan dalam keadaan telanjang, berpelukan, dan Tono
menyuapi aku. UH... laki-laki maa yang mau melakukan itu padaku. Tono
demikian memanjakan diriku. Tak lama Tono sudah mengangkat tubuhku dan
kembali menggendongku. Dia memasukkan kontolnya ke dalam vaginaku.
Begitu cepatnya kontol Tono keras. Aku dipeluknya sembari menyuapi
mulutku dengan nasi dan lauk-pauk.
"Kamu tak puas-puasnya, sayang," kataku disela mengucah nasiku.
"Ya aku tak pernah puas bila denganmu manda sayang," katanya.
"Ya... sama. Aku memang tak pernah puas kalau bersetubuh. Ingin rasanya
aku orgasme 100 kali dalam sehari. Mungkin aku sudah kelainan jiwa atau
kelaianan sex," kataku.
"Lucy tak mampu melayaniku. Aku mampu 6 sampai 7 kali dalam semalam,"
katanya. Bahkan lebih, kalau tidak Tono tidak merasa hidup.
Ah... ternyata antara aku dan Tono sama-sama memiliki kelainan sex. Tak
sedekit pun aku dilepasnya dari tubuhnya. Mencuci memekku dia lakukan,
menyuapiku, memberiku minum dan semuanya, tanpa lepas dari dirinya. Aku
ingin dia bosan dan ingin dia kewalahan, maka aku rancang kami harus
bugil, ternyata aku yang kewalahan.
"Sudah pukul 15.00 lebih. Kita mandi yuk," bisikku. Tono membawaku ke
kamar mandi dan menghidukan air dalam bath tub. Kami masuk ke dalamnya.
Aku tetap tak dia lepaskan. Tetap dalam pelukannya, bagaimana induk
monyet yang tak melepas anaknya dari gendongannya.
Air berkecipak dalam kamar mandi. Kami saling menyabuni. Kontol Tono
terus berada di dalam vaginaku. Rasanya tak ingin dialepas sedikitpun.
Aku pun demikian, aku ingin ada las untuk menguatkan kontol tak lepas
dari memekku. Gila!.
Tubuh kami dilap pakai handuk dan aku tetap dalam gendongannya. Dimana
aku bisa menemukan seperti ini. Dimana? Suamiku sendiri, hanya
mencelupkan kontolnya, tak sampai 15 menit sudah menumpahkan spermanya,
saat aku masih belum apa-apa.
Makan malam, nonton tv dengan suara yang sangat kecil dan keremangan
lampu agar orang tak melihat cahaya dari luar dan tetap mengira kami
berada di luar rumah, kontolnya tetap berada di dalam memekku. Sampai
pukul 21.00 Wib, aku mengajaknya bobo agar besok pagi kami segar kembali
dan aku sudah terlalu letih. Di kamar, Tono memompa kontolnya dan
melepaskan spermanya berkali-kali ke dalam vaginaku. Kami pu tertidur
pulas sampai pagi.
Selasa, 07 Oktober 2014
Akibat gemar burung muda, aku disetubuhi anakku
Kalau aku diam, orang akan mengatakan, ”Begitulah janda, tak bisa cari
uang setelah ditinggal mati suaminya.” Kalau aku tidak keluar rumah,
orang akan mengatakan, ”Selalu berkurung diri, pasti sudah kehilangan
akal setelah dicerai suami.” Kalau aku keluar rumah dan tentu saja aku
bersolek, orang berkata, ”Dasar janda, pasti keluar cari laki-laki,
jelas saja dicerai oleh suaminya.” Apa saja yang kulakukan selalu saja
salah di mata orang lain, terlebih para tetangga.
Namun aku tak peduli lagi. Apa pun kata tetangga, aku akan keluar rumah dan mencari uang untuk anak semata wayangku. Dia sudah SMP dan dia butuh biaya. Aku harus menyekolahkannya setinggi mungkin, agar kelak hidupnya bahagia.
Ketika aku keluar rumah dalam usiaku yang 37 tahun, banyak saja laki-laki iseng menggodaku. Mata mereka membelalak melihat tubuhku, terutama belahan dadaku. Atau mungkin perasaanku saja. Aku semakin sensitif setelah aku jadi janda. Tapi salahkan aku, kalau aku membutuhkan laki juga? Aku adalah perempuan normal dan kebutuhan seks-ku masih tinggi.
Aku sengaja tidak menyewakan lagi kios di pasar. Dulunya aku berjualan di sana, kemudian suamiku melarangku jualan, karena banyaknya laki-laki iseng menggodaku. Akhirnya kuputuskan untuk tidak berjualan lagi. Setelah suamiku menggila dengan perempuan lain, aku minta cerai dan aku ingin berjualan kembali. Aku mulai membenahi kios tempatku berjualan. Aku berjualan garmen (pakaian jadi). Aku mengikuti selera anak muda dan remaja yang suka pada mode-mode pakaian terbaru.
Setelah membuka kios, aku mendapatkan pelanggan. Seorang laki-laki berusia 19 tahun. Ganteng dan entah kenapa aku begitu cepat tertarik kepadanya. Wajahnya begitu baby face dan rapi. Aku mulai menggodanya. Aku lupa siapa diriku yang sudah berusia 37 tahun. Ah, senyumnya begitu memikat. Ketika dia masuk ke sebuah sudut yang hanya ditutupi oleh kain tirai untuk mencocokkan celana jeans yang dia beli, aku mengikutinya. Aku yakin dia sudah membuka celananya dan aku masuk ke dalam. Aku pura-pura terkejut. Dia tersipu malu.
"Bagaimana, pas?" tanyaku.
"Kurang besar sedikit, Mbak," katanya.
"Apanya yang kurang besar? Mungkin ’anu’ nya yang kegedean?" tanyaku mengarah. Dia tersenyum.
"Pasti pacarmu puas pacaran denganmu," kataku.
"Kenapa, mbak?" tanyanya lagi.
"Habis, besar dan panjang," kataku melirik kontolnya dan memekku sudah mulai berdenyut-denyut. Yah, sudah tujuh bulan aku tidak merasakan ada kontol yang masuk ke memek-ku lagi.
"Aku belum pernah punya pacar mbak. Apa mbak mau?" katanya merayu. Aku terkejut atas jawabannya yang to the point itu.
"Apa kamu sudah pintar?" kataku.
"Belum sih. Tapi mbak kan bisa mengajari aku nanti," katanya, seperti serius.
"Boleh juga," kataku pula to the point.
"Oh iya, nama tante Siapa?" tanyanya
"Nama Tante, Mia" jawabku
Hari pertama buka, aku sudah banyak laku. Mungkin penataan pakaian yang kuletakkan di kios berukuran 4 X 4 meter itu membuat para remaja terpikat. Inilah saatnya, pikirku pula. Aku tak boleh melepaskan kesempatan ini, bisik hatiku pula. Aku akan menjaga diriku tidak hamil dengan meminum jamu peluntur yang ampuh, Rumput Fatimah yang manjur itu.
Denny, begitu namanya dan katanya baru setahun lulus SMA dan tidak melanjutkan kuliah, karena kalah ujian UMPTN dan akan akan mencoba lagi tahun depan. Aku masuk ikut ke dalam kamar pas. Setelah pakaiannya pas, aku tak melepaskan kesempatan itu. Aku langsung memeluknya dan mencium bibirnya dan mengelus-elus kontolnya. Dia gelagapan membalas ciumanku. Aku mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Dengan cepat kulepaskan ciumanku, begitu mendengar ada mobil parkir di depan kiosku. Ah, ternyata mobil orang yang mau belanja ke kios lain.
Denny keluar dari kamar pas dan membayar celananya. Rasanya enggan aku menerimanya. Tapi mana tahu dia tidak suka padaku, maka sia-sialah sebuah celana. Kalau dia suka kepadaku, besok lusa, aku bisa memberinya lebih.
Kami cerita-cerita di kios dan aku memesan segelas juice orange agar obrolan sedikit lama dan aku bisa mengorek sedikit banyak tentang dirinya. Akhirnya kami berjanji untuk pulang sama-sama. Aku cepat menutup kiosku dan kami pulang naik bus. Di sebuah persimpangan kami turun dan memasuki sebuah hotel kecil yang bersih. Kami menyewa kamar yang termurah. Begitu pintu kukunci, aku langsung menyerbunya dan menciumi kembali bibirnya dan mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Tak kulupa kuelus-elus kontolnya dari balik celananya. Begitu cepat kontolnya bangkit dan berdiri. Denny harus mendapatkan kenikmatan yang pertama dariku. Dia harus merasakan bagaimana nikmatnya bersetubuh dengan seorang perempuan. Aku juga harus mendapatkan segalanya darinya.
Dengan cepat kubuka pakaianya dan pakaianku juga. Tak kusia-siakan kesempatan itu. Aku mulai beraksi dan menjilati sekujur tubuhnya yang atletis itu. Langsung saja kuhisap kontolnya. Aku menyaksikannya menggelepar-gelepar, seperti ikan yang tertangkap. Sebentar lagi dia akan sampai ke puncak nikmat. Aku tak ingin menyia-nyiakannya. Dengan cepat lidahku bermain di kepala dan batang kontolnya. Lalu aku merasakan spermanya keluar dari batangnya. Terasa penuh rongga mulutku. Banyak sekali spermanya. Gleeekkk... aku menelannya.
Yah, aku sendiri merasa heran, kenapa itu aku lakukan, sementara kepada suamiku sendiri, aku tak pernah melakukannya. Ternyata sperma itu, enak juga rasanya. Aku menjilati sisa sperma di batang kontolnya dan kami rebahan dengan senyum yang mengembang.
Dua jam lamanya kami istirahat di atas ranjang. Kami ke kamar mandi untuk buang air kecil. Aku menyabuni kontolnya sampai bersih. Dari kamar mandi ke ranjang, aku memeluknya. Aku sudah sangat ingin kontolnya memasuki memekku. Di atas ranjang aku kembali menciuminya. Aku minta dia mengisap-isap tetekku. Mulanya, dia agak kaku mengisapnya. Aku yakin sekali kalau dia belum pernah mengisap tetek pacarnya, apalagi bersetubuh dengan pacarnya. Berciuman saja dia masih kaku, apa lagi bersetubuh. Dia belum tahu bagaimana caranya memuaskan perempuan. Aku harus mendidiknya dalam beberapa kali lagi. Tapi kali ini, aku ingin sekali kontolnya bisa memasuki lubang memekku.
Setelah kontolnya mengeras, dengan cepat aku menaiki tubuhnya dan mengangkangi kedua kakinya, lalu memasukkan kontolnya ke dalam memekku. Dengan cepat aku menggoyangnya dari atas tubuhnya. Aku mencari-cari titik-titik sensitif di dalam memekku. Begitu ketemu, aku memusatkan gerakanku khusus untuk itu. Aku harus sampai ke puncak lebih dahulu. Benar saja. Denny sudah kembali merasakan sensasi nikmat dari goyanganku. Sebentar lagi dia akan sampai dan aku harus mendahuluinya jika tak ingin kehilangan kenikmatan.
Kujilati lehernya dan tetekku kugesek-gesekkan ke dadanya. Lidahnya yang dia julurkan aku isap-isap dengan lembut, sementara tanganku mengelus-elus kepalanya. Laki-laki mana yang tak senang kepalanya dielus-elus dengan lembut. Aku lebih cepat lagi menggoyang dan menggoyang. Kutekan kuat-kuat, hingga batangnya mentok di ujung paling dalam memekku. Aku memutar-mutar pantatku hingga aku merasakan ujung kontolnya menggesek-gesek ujung memekku yang terdalam. Dan... aku pun sampai ke puncak kenikmatan. Aku memeluknya kuat sekali dan terus menekan lebih dalam lagi kontolnya ke dalam memekku. Kugigit-gigit lehernya, membuat dia kelimpungan. Dan aku merasakan semburan lahar panas dari dalam batang kontolnya. Denny sampai ke puncaknya.
Sejak saat itu, kami selalu melakukan persetubuhan kami. Denny semakin hari, semakin pintar bersetubuh.
Aku bukan haus seks namanya, kalau aku puas hanya dengan Denny. Setelah aku muak dengannya, aku mencari mangsa lain. Paling setiap dua minggu sekali aku memberinya sebuah celana jeans model terbaru. Makan atau minum serta rokok sebungkus setiap kali kami pergi ke hotel. Untuk anak-anak pemula, biayanya tak perlu banyak. Yang penting rayuan kita dan pintar memujinya.
Terserah apa kata orang lain terhadapku. Aku butuh kontol dan seks. Aku butuh kenikmatan. Yag penting aku tidak hamil.
"Mau beli apa, Dik?" tanyaku kepada seoang pembeli yang berseragam SMP.
"Mau beli sepatu untuk Basket, Tante." katanya sembari melihat-lihat contoh sepatu yang kupajang. Seketika itu juga hatiku berkata. Alangkah gantengnya anak ini, masih kecil sudah begini gantengnya, bagaimana kalau sudah dewasa, bisik hatiku.
"Untuk anak ganteng seperti kamu, akan Tante berikan harga yang termurah." kataku merayu. Dia melirikku dengan senyumnya.
Ah, hatiku bergetar. Apakah aku sudah gila, aku harus mencintai laki-laki berusia 15 tahun, hanya dua tahun di atas usia anakku? Kudekati dia dan aku bantu memilihkan sepatu yang cocok untuknya. Tingginya sebahuku. Aku sengaja mendekatinya agar aku bisa mengukur tingginya. Namanya Andri.
"Kamu sendirian saja belanja? Kenapa enggak ditemani pacar?" kataku menggodanya.
"Belum punya pacar, tante." katanya malu-malu.
”Nanti kalau pakai sepatu baru, pasti ada perempuan yang suka kepadamu," kataku memuji.
"Siapa, Tante? Tante ya?" katanya dengan bijak, tapi matanya terus memilih sepatu.
"Kalau iya, apa kamu mau sama tante. Tante kan sudah tua? Tapi namanya cinta kan tidak membedakan umur, kan?" kataku pula bergenit-genit.
"Katanya cinta itu buta kok, Tante," katanya pula sok pintar. Sewaktu dia mau mengambil sepatu yang terletak agak di atas, aku sengaja membantunya mengambilkan dari belakang. Sengaja kugesekkan tetekku ke punggungnya dan menyentuhkan perutku ke pinggangnya. Ah, lagi-lagi memekku berdenyut kencang.
"Ah, anak ganteng. Andaikan kamu pacar tante, akan tante ajari kamu berciuman," kataku setengah berbisik, tapi aku sengaja dia mendengar ucapanku. Aku lihat dia tersenyum, walau dia sengaja menyembunyikan senyumnya.
Entah kenapa aku yakin sekali, mampu memperoleh anak ini sebagai teman kencanku. Aku tak mau berkencan dengan laki-laki tua yang egois. Aku mau anak muda yang bau kencur, manja dan masih baru belajar. Aku bangga mengajarinya pintar soal seks. Dia harus mendapatkan pelajaran seks pertama dariku. Itulah tekadku.
Aku buka tali sepatu dan aku masukkan ke kakinya. Dia duduk di kursi dan aku berjongkok di lantai. Dengan menunduk aku memperlihatkan buah dadaku dan selangkangan pahaku kepadanya. Aku tahu dia mulai melirik ke sela-sela pahaku dan sesekali matanya juga menatap tajam ke belahan dadakui. Anak laki-laki sekarang memang cepat sekali mengetahui soal seks. Apakah soal gizinya yang sudah cukup atau dia sudah mampu mengakses internet, hingga sudah bisa mengetahui banyak hal tentang seks? Entahlah. Aku tak perduli dan aku harus mendapatkannya.
"Kamu ganteng sekali, Andri. Mau ya jadi pacar tante?" kataku.
"Tante enggak punya suami?" tanyanya sembari mengikat tali sepatunya.Pertanyaan anak kecil kah ini? Atau pertanyaan orang dewasa.
"Tante sudah bercerai. Tante nggak mau dimadu, tante minta cerai," kataku bergenit-genit.
"Pacaran itu enak nggak, Tante?" tanyanya.
"Wah, tentu enak. Kalau tidak, mana mungkin orang pacaran," kataku sembari memasukkan satu lagi sepatu ke kakinya. Pembeli memang lagi sepi sore itu.
"Kalau tante jadi pacarku, kita ciuman?" katanya bertanya. Tapi tangannya terus membetuli sepatunya, seperti dia sedang bicara sesuatu yang lain. Orang lain tidak akan tahu apa yang sedang kami bicarakan.
"Tentu dong. Kalau kamu belum pernah ciuman, nanti tante ajari," kataku meyakinkannya.
Harga sepatu sudah jadi. Harganya pas sesuai harga beli. Aku tidak beruntung sedikitpun. Dia membayarnya dan menuliskan sesuatu di atas kertas. Ternyata dia menulis nomor phone cell-nya. Aku tersenyum.
Sorenya aku iseng menekan tuts HP-ku ke nomornya dan mengirimkan SMS padanya. "Hallo, Sayang. I Love u," tulisku.
Tak lama, SMS-ku terbalas. "I Love u 2" katanya. Dari SMS, dia mengatakan akan datang ke kiosku sebelum aku tutup, dia mau menciumku dan memintaku agar mengisap kontolnya seperti yang dia tonton di VCD porno.
Aku langsung menjawabnya, ”Ok, aku pasti menunggumu.”
Benar saja. Ketika aku mau tutup, dia sudah berada di depanku dengan pakaiannya yang lain dan sudah mandi bersih. Dia masuk ke dalam kios dan duduk di sebuah sudut. Nekat juga anak ini, pikirku. Apakah dia serius atau ini sebuah jebakan? Aku melihat ke sekitar, ternyata tak ada tanda-tanda dia membawa orang lain. Cepat kututup pintu kios dan melihat kondisi, meyakinkannya benar-benar aman. Setelah pintu kukunci, aku mematikan lampu dan langsung menyerbunya. Kuciumi bibirnya dan aku memeluknya sembari meraba-raba kontolnya. Aku merasa kontolnya sudah tegang dan keras. Andri meremas-remas tetekku dari balik pakaianku. Setelah puas meremas-remas tetekku dan tangannya dia masukkan ke dalam bra-ku, dia memelukku.
"Aku berdiri yang tante," katanya.
"Untuk apa, Sayang?" sahutku.
Dia tak menjawab pertanyaanku. Langsung saja dia berdiri dan aku masih duduk di kursi pendek, dia keluarkankan kontolnya dan ia rahkan ke mukaku. Cepat kutangkap kontolnya dan segera menghisap-hisap serta menjilatinya penuh nafsu.Dia memegangi kepalaku saat aku memaju mundurkan kontolnya di dalam mulutku.
Aku tak mau dia mengeluarkan spermanya di dalam mulutku, karena aku butuh kontolnya masuk ke dalam memekku. Jadi kubuka celana dalamku dan kuangkat rokku ke atas.
"Kamu duduk di kursi, Sayang," pintaku. Setelah dia duduk, aku menaikinya. Kedua telapak kakiku bertumpu ke sisi kursi dan aku jongkok mengarahkan memekku ke kontolnya. Perlahan kontolnya memasuki memekku yang sudah sangat basah. Aku segera menggoyangnya dan memutar-mutar pantatku hingga kontolnya berada pada ujung memekku yang paling dalam. Ternyata anak ini jauh lebih pintar dari Denny. Walau usia Denny sudah 19 tahun, tapi Andri memang pemuda yang kelihatan banyak menonton film porno. Dia memelukku kuat-kuat dengan gemas.
"Cepat, Tante, Andri sudah mau keluar," bisiknya takut didengar orang dari luar kios. Aku juga harus lebih dulu keluar dan mencapai puncak kenikmatanku. Kuputar dan kugoyang pantatku semakin cepat sampai akhirnya aku merasakan suatu getaran halus dari dalam diriku. Aku sampai ke puncak nikmatku. Kutekan kuat-kuat tubuhku sampai Andri merasa terbebani oleh tubuhku. Lalu dia juga menyemprotkan spermanya ke dalam memekku. Kami berpelukan erat.
Andri seorang anak laki-laki yang masih sangat remaja. Orang-orang selalu berkata, kalau bersetubuh dengan anak remaja tingting, kita harus sabar dan harus pandai meuji-mujinya. Pujian, adalah kesukaan mereka dan pujian adalah keinginan setiap laki-laki remaja.
"Kapan lagi, Tante?" katanya sambil meremas-remas tetekku.
"Kapan saja, Sayang. Tapi kalau bisa, kita harus di hotel biar bebas," kataku. Dia menyanggupi.
Sejak saat itu, kami mulai melakukannya, bukan di hotel saja, tapi lebih sering di villa orangtua Andri. Ternyata Andri anak orang yang maha kaya. Hampir setiap malam SMS-nya terkirim untukku. Kata-katanya sangat mesra, layaknya dua remaja sedang bercinta. Inilah petaka buatku. Dalam kekhilafanku, anakku membaca semua SMS itu, ketika tak sengaja HP-ku tertinggal di rumah.
Begitu aku pulang dari kios, Anto, anakku, langsung memberondongku dengan sejuta pertanyaan. ”Siapa Andri itu?”
Darahku langsung berdesir. Aku berusaha berbohong. Aku mengatakan kalau Andri adalah pelangganku. Tapi Anto meminta aku jujur. Aku menekankan kalau Andri adalah pelangganku. Tapi Anto menunjukkan selembar kertas, isi SMS Andri kepadaku yang sudah dia salin kembali. Aku tertunduk tak bisa menjawab.
"Malam ini Mama juga mau ngentot nggak sama Anto?" katanya. Aku memberikan penjelasan, kalau dia masih SMP dan belum boleh melakukannya. Lagian, dia juga anakku!
"Andri juga kan masih SMP, Ma?" katanya tegas.
”Tapi dia bukan anakku,” kataku tegas.
Anto terus memaksa, dia mengancam akan menceritakan semua ini kepada neneknya (ibuku). Dia memang sangat dekat dan dimanja oleh ibuku. Mati aku, bisikku. Aku diam saja. Tetap berusaha menolak bersetubuh dengannya.
Besoknya, Anto tidak pulang ke rumah. Kuhubungi HP-nya, tidak aktif. Aku sangat kesal. Aku juga takut kalau-kalau Anto pergi entah kemana. Aku hubungi teman-temannya, mereka juga mengatakan tidak tahu Anto pergi kemana. Menurut salah seorang temannya, Anto sudah membawa beberapa setel pakaian dalam ranselnya.
Aku menghubungi ibuku. Beliau juga terkejut dan malah aku dimarahi kalau sampai cucunya tak ditemukan. Aku mengatakan hanya terjadi pertengkaran kecil saja dengan Anto. Aku berbohong kepada ibuku.
Esoknya aku tidak buka kios dan aku ke sekolahnya, ternyata Anto tidak masuk sekolah. Dua hari dia tidak masuk sekolah dan aku sudah kesusahan. Apakah dia pergi ke rumah ayahnya? Kalau itu yang terjadi, aku bakal kehilangan dirinya untuk selama-lamanya, apalagi kalau Anto sempat bercerita kepda ayahnya tentang pacarku yang bernama Andri. Hak mengasuh anak akan jatuh ke tangan suamiku.
Tidak ingin itu terjadi, segera aku kirimkan SMS kepada Anto. "Sayang, pulanglah. Mama sangat rindu. Apa pun yang Anto minta, akan mama kabulkan."
Dadaku berdetak keras menunggu jawabannya. Aku berharap Anto mau pulang ke rumah, karena dia adalah milikku satu-satunya. Tiba-tiba HP-ku bergetar. Segara kubuka. Dari Anto. "OK, Sayang. Aku sedang menuju pulang," katanya.
Seeerrrr... darahku terasa kembali mengalir. Cepat aku membenahi diriku. Aku tak mau kelihatan kusut. Aku menunggu Anto. Detik-detik terasa sangat lambat sekali dan membosankan. Bagaimana Anto yang sudah tiga hari tidak bertemu denganku. Apakah dia sehat?
Kembali darahku berdesir begitu melihat Anto sudah berada di ambang pintu rumah. Kusongsong dia dan kupeluk tubuhnya dengan penuh kasih sayang. Dia cepat masuk ke dalam rumah dan menutup pintu lalu menguncinya. Di seretnya aku ke dalam kamarnya.
"Ada apa, Sayang?" kataku. Anto tak menjawab. Dia membuka semua pakaiannya dan bugil.
"Mama buka juga," katanya seperti memerintah. Aku terkesima. Sampai akhirnya Anto yang mendatangiku dan membuka semua pakaianku. "Sesuai janji dalam SMS," katanya.
Aku terdiam pasrah, kubiarkan dia membuka seluruh pakaianku sampai aku telanjang bulat. Kubiarkan dia melihat seluruh tubuhku. Ingin rasanya aku mencekik dan membunuhnya karena dia telah memperlakukan ibunya seperti ini. Tapi mana bisa, kehilangan dia dua hari saja sudah membuat aku kelimpungan!
Anto memelukku dan mengisap tetekku. Lalu dia meraba memekku dan memasukkan jarinya ke celah-celah memekku. Mulanya aku biasa saja, tapi lama kelamaan aku menjadi bergetar juga. Semua yang dia lakukan, persis seperti apa yang dilakukan oleh Andri. Aku baru sadar, kalau dia sudah membaca semua SMS Andri. Semua yang dilakukannya kepadaku, Andri tulis di dalam SMS yang dia kirimkan. Anto mengikuti isi SMS Andri itu rupanya. Dasar aku perempuan yang haus akan seks, rabaan Anto anakku itu membuatku birahi juga pada akhirnya. Aku birahi dengan anak kandungku sendiri.
Didorongnya aku ke ranjang. Lalu dikangkangkannya kedua pahaku dan ia mulia menjilati lubang memekku dengan rakus. Lagi-lagi aku mengingat isi SMS Andri padaku yang puas menjilati memekku. Aku jadi lupa kalau yang sekarang sedang melakukan itu kepadaku adalah Anto, anakku sendiri. Aku mengimbanginya dengan mengelus-elus kepalanya. Perutku sudah pula dijilatinya dan kini mulutnya sudah menjilati dan menghisap-hisap lagi tetekku. Aku menggelinjang. Anak yang hampir 13 tahun itu begitu rakus dan begitu beraninya memperlakukan aku seperti kekasihnya sendiri.
Sambil aku memberikan respon, aku bertanya kepadanya. "Apakah sebelumnya kamu sudah pernah melakukan yang seperti ini, Sayang?" kataku.
"Sudah!" jawabnya singkat dan terus menjilati tetekku.
"Sama siapa, Sayang?" aku jadi gelisah dan resah sembari menikmati juga jilatan dan hisapannya.
"Sama Bibi," katanya. Ah, bajingan! Ternyata anakku sudah melakukannya dengan adik perempuanku yang juga baru saja bercerai.
"Dimana, Sayang?"
"Di rumah nenek."
"Kapan, Nak?"
"Bulan lalu,"
"Berapa kali, Nak?"
"Enam kali," katanya tanpa ragu. Pantas Anto sudah ketagihan seks, karena dia sudah merasakan nikmatnya seks dalam usia yang sangat muda sekali. Sama seperti Andri yang sudah ketagihan seks denganku.
Kuraba kontol Anto yang sudah mengeras. Dia sudah menindih tubuhku dan mencari-cari lubang memekku. Aku menuntunnya dan memasukkan kontolnya ke lubangku. Begitu cepatnya kontol itu memasuki lubangku dan Anto segera mengocoknya lembut disana. Kontol Anto sama besarnya dengan kontol Andri.
Ketika ujung pentilku digigit-gigitnya, aku menggelinjang. Aku mulai merasakan nikmatnya. Kami berpelukan dan saling menggoyang. Anto jauh lebih pintar dari Andri, apalagi jika dibandingkan dengan Denny yang sudah 19 tahun itu. Aku mengangkat kedua kakiku tinggi-tinggi agar kontol Anto kebih leluasa keluar-masuk.
"Ma, mulai sekarang, mama nggak boleh lagi sama Andri. Anto yang akan menggantikan Andri." katanya sembari terus mengocokkan kontolnya ke memekku.
"Iya, Sayang," aku menyahut pendek.
"Daripada mama berikan dia celana, kan lebih bagus mama berikan kepada Anto, anak mama sendiri," katanya lagi.
"Iya, Mama janji, Sayang." kataku.
Kami terus saling memuaskan dan saling menggoyang. Sejak saat itu, kami terus melakukan persetubuhan dan aku tidak mau lagi menggoda laki-laki lain yang merugikan usahaku.
Anto harus tetap menjadi milikku, bukan milik ayahnya. Lahir batin Anto adalah milikku.
Namun aku tak peduli lagi. Apa pun kata tetangga, aku akan keluar rumah dan mencari uang untuk anak semata wayangku. Dia sudah SMP dan dia butuh biaya. Aku harus menyekolahkannya setinggi mungkin, agar kelak hidupnya bahagia.
Ketika aku keluar rumah dalam usiaku yang 37 tahun, banyak saja laki-laki iseng menggodaku. Mata mereka membelalak melihat tubuhku, terutama belahan dadaku. Atau mungkin perasaanku saja. Aku semakin sensitif setelah aku jadi janda. Tapi salahkan aku, kalau aku membutuhkan laki juga? Aku adalah perempuan normal dan kebutuhan seks-ku masih tinggi.
Aku sengaja tidak menyewakan lagi kios di pasar. Dulunya aku berjualan di sana, kemudian suamiku melarangku jualan, karena banyaknya laki-laki iseng menggodaku. Akhirnya kuputuskan untuk tidak berjualan lagi. Setelah suamiku menggila dengan perempuan lain, aku minta cerai dan aku ingin berjualan kembali. Aku mulai membenahi kios tempatku berjualan. Aku berjualan garmen (pakaian jadi). Aku mengikuti selera anak muda dan remaja yang suka pada mode-mode pakaian terbaru.
Setelah membuka kios, aku mendapatkan pelanggan. Seorang laki-laki berusia 19 tahun. Ganteng dan entah kenapa aku begitu cepat tertarik kepadanya. Wajahnya begitu baby face dan rapi. Aku mulai menggodanya. Aku lupa siapa diriku yang sudah berusia 37 tahun. Ah, senyumnya begitu memikat. Ketika dia masuk ke sebuah sudut yang hanya ditutupi oleh kain tirai untuk mencocokkan celana jeans yang dia beli, aku mengikutinya. Aku yakin dia sudah membuka celananya dan aku masuk ke dalam. Aku pura-pura terkejut. Dia tersipu malu.
"Bagaimana, pas?" tanyaku.
"Kurang besar sedikit, Mbak," katanya.
"Apanya yang kurang besar? Mungkin ’anu’ nya yang kegedean?" tanyaku mengarah. Dia tersenyum.
"Pasti pacarmu puas pacaran denganmu," kataku.
"Kenapa, mbak?" tanyanya lagi.
"Habis, besar dan panjang," kataku melirik kontolnya dan memekku sudah mulai berdenyut-denyut. Yah, sudah tujuh bulan aku tidak merasakan ada kontol yang masuk ke memek-ku lagi.
"Aku belum pernah punya pacar mbak. Apa mbak mau?" katanya merayu. Aku terkejut atas jawabannya yang to the point itu.
"Apa kamu sudah pintar?" kataku.
"Belum sih. Tapi mbak kan bisa mengajari aku nanti," katanya, seperti serius.
"Boleh juga," kataku pula to the point.
"Oh iya, nama tante Siapa?" tanyanya
"Nama Tante, Mia" jawabku
Hari pertama buka, aku sudah banyak laku. Mungkin penataan pakaian yang kuletakkan di kios berukuran 4 X 4 meter itu membuat para remaja terpikat. Inilah saatnya, pikirku pula. Aku tak boleh melepaskan kesempatan ini, bisik hatiku pula. Aku akan menjaga diriku tidak hamil dengan meminum jamu peluntur yang ampuh, Rumput Fatimah yang manjur itu.
Denny, begitu namanya dan katanya baru setahun lulus SMA dan tidak melanjutkan kuliah, karena kalah ujian UMPTN dan akan akan mencoba lagi tahun depan. Aku masuk ikut ke dalam kamar pas. Setelah pakaiannya pas, aku tak melepaskan kesempatan itu. Aku langsung memeluknya dan mencium bibirnya dan mengelus-elus kontolnya. Dia gelagapan membalas ciumanku. Aku mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Dengan cepat kulepaskan ciumanku, begitu mendengar ada mobil parkir di depan kiosku. Ah, ternyata mobil orang yang mau belanja ke kios lain.
Denny keluar dari kamar pas dan membayar celananya. Rasanya enggan aku menerimanya. Tapi mana tahu dia tidak suka padaku, maka sia-sialah sebuah celana. Kalau dia suka kepadaku, besok lusa, aku bisa memberinya lebih.
Kami cerita-cerita di kios dan aku memesan segelas juice orange agar obrolan sedikit lama dan aku bisa mengorek sedikit banyak tentang dirinya. Akhirnya kami berjanji untuk pulang sama-sama. Aku cepat menutup kiosku dan kami pulang naik bus. Di sebuah persimpangan kami turun dan memasuki sebuah hotel kecil yang bersih. Kami menyewa kamar yang termurah. Begitu pintu kukunci, aku langsung menyerbunya dan menciumi kembali bibirnya dan mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Tak kulupa kuelus-elus kontolnya dari balik celananya. Begitu cepat kontolnya bangkit dan berdiri. Denny harus mendapatkan kenikmatan yang pertama dariku. Dia harus merasakan bagaimana nikmatnya bersetubuh dengan seorang perempuan. Aku juga harus mendapatkan segalanya darinya.
Dengan cepat kubuka pakaianya dan pakaianku juga. Tak kusia-siakan kesempatan itu. Aku mulai beraksi dan menjilati sekujur tubuhnya yang atletis itu. Langsung saja kuhisap kontolnya. Aku menyaksikannya menggelepar-gelepar, seperti ikan yang tertangkap. Sebentar lagi dia akan sampai ke puncak nikmat. Aku tak ingin menyia-nyiakannya. Dengan cepat lidahku bermain di kepala dan batang kontolnya. Lalu aku merasakan spermanya keluar dari batangnya. Terasa penuh rongga mulutku. Banyak sekali spermanya. Gleeekkk... aku menelannya.
Yah, aku sendiri merasa heran, kenapa itu aku lakukan, sementara kepada suamiku sendiri, aku tak pernah melakukannya. Ternyata sperma itu, enak juga rasanya. Aku menjilati sisa sperma di batang kontolnya dan kami rebahan dengan senyum yang mengembang.
Dua jam lamanya kami istirahat di atas ranjang. Kami ke kamar mandi untuk buang air kecil. Aku menyabuni kontolnya sampai bersih. Dari kamar mandi ke ranjang, aku memeluknya. Aku sudah sangat ingin kontolnya memasuki memekku. Di atas ranjang aku kembali menciuminya. Aku minta dia mengisap-isap tetekku. Mulanya, dia agak kaku mengisapnya. Aku yakin sekali kalau dia belum pernah mengisap tetek pacarnya, apalagi bersetubuh dengan pacarnya. Berciuman saja dia masih kaku, apa lagi bersetubuh. Dia belum tahu bagaimana caranya memuaskan perempuan. Aku harus mendidiknya dalam beberapa kali lagi. Tapi kali ini, aku ingin sekali kontolnya bisa memasuki lubang memekku.
Setelah kontolnya mengeras, dengan cepat aku menaiki tubuhnya dan mengangkangi kedua kakinya, lalu memasukkan kontolnya ke dalam memekku. Dengan cepat aku menggoyangnya dari atas tubuhnya. Aku mencari-cari titik-titik sensitif di dalam memekku. Begitu ketemu, aku memusatkan gerakanku khusus untuk itu. Aku harus sampai ke puncak lebih dahulu. Benar saja. Denny sudah kembali merasakan sensasi nikmat dari goyanganku. Sebentar lagi dia akan sampai dan aku harus mendahuluinya jika tak ingin kehilangan kenikmatan.
Kujilati lehernya dan tetekku kugesek-gesekkan ke dadanya. Lidahnya yang dia julurkan aku isap-isap dengan lembut, sementara tanganku mengelus-elus kepalanya. Laki-laki mana yang tak senang kepalanya dielus-elus dengan lembut. Aku lebih cepat lagi menggoyang dan menggoyang. Kutekan kuat-kuat, hingga batangnya mentok di ujung paling dalam memekku. Aku memutar-mutar pantatku hingga aku merasakan ujung kontolnya menggesek-gesek ujung memekku yang terdalam. Dan... aku pun sampai ke puncak kenikmatan. Aku memeluknya kuat sekali dan terus menekan lebih dalam lagi kontolnya ke dalam memekku. Kugigit-gigit lehernya, membuat dia kelimpungan. Dan aku merasakan semburan lahar panas dari dalam batang kontolnya. Denny sampai ke puncaknya.
Sejak saat itu, kami selalu melakukan persetubuhan kami. Denny semakin hari, semakin pintar bersetubuh.
Aku bukan haus seks namanya, kalau aku puas hanya dengan Denny. Setelah aku muak dengannya, aku mencari mangsa lain. Paling setiap dua minggu sekali aku memberinya sebuah celana jeans model terbaru. Makan atau minum serta rokok sebungkus setiap kali kami pergi ke hotel. Untuk anak-anak pemula, biayanya tak perlu banyak. Yang penting rayuan kita dan pintar memujinya.
Terserah apa kata orang lain terhadapku. Aku butuh kontol dan seks. Aku butuh kenikmatan. Yag penting aku tidak hamil.
"Mau beli apa, Dik?" tanyaku kepada seoang pembeli yang berseragam SMP.
"Mau beli sepatu untuk Basket, Tante." katanya sembari melihat-lihat contoh sepatu yang kupajang. Seketika itu juga hatiku berkata. Alangkah gantengnya anak ini, masih kecil sudah begini gantengnya, bagaimana kalau sudah dewasa, bisik hatiku.
"Untuk anak ganteng seperti kamu, akan Tante berikan harga yang termurah." kataku merayu. Dia melirikku dengan senyumnya.
Ah, hatiku bergetar. Apakah aku sudah gila, aku harus mencintai laki-laki berusia 15 tahun, hanya dua tahun di atas usia anakku? Kudekati dia dan aku bantu memilihkan sepatu yang cocok untuknya. Tingginya sebahuku. Aku sengaja mendekatinya agar aku bisa mengukur tingginya. Namanya Andri.
"Kamu sendirian saja belanja? Kenapa enggak ditemani pacar?" kataku menggodanya.
"Belum punya pacar, tante." katanya malu-malu.
”Nanti kalau pakai sepatu baru, pasti ada perempuan yang suka kepadamu," kataku memuji.
"Siapa, Tante? Tante ya?" katanya dengan bijak, tapi matanya terus memilih sepatu.
"Kalau iya, apa kamu mau sama tante. Tante kan sudah tua? Tapi namanya cinta kan tidak membedakan umur, kan?" kataku pula bergenit-genit.
"Katanya cinta itu buta kok, Tante," katanya pula sok pintar. Sewaktu dia mau mengambil sepatu yang terletak agak di atas, aku sengaja membantunya mengambilkan dari belakang. Sengaja kugesekkan tetekku ke punggungnya dan menyentuhkan perutku ke pinggangnya. Ah, lagi-lagi memekku berdenyut kencang.
"Ah, anak ganteng. Andaikan kamu pacar tante, akan tante ajari kamu berciuman," kataku setengah berbisik, tapi aku sengaja dia mendengar ucapanku. Aku lihat dia tersenyum, walau dia sengaja menyembunyikan senyumnya.
Entah kenapa aku yakin sekali, mampu memperoleh anak ini sebagai teman kencanku. Aku tak mau berkencan dengan laki-laki tua yang egois. Aku mau anak muda yang bau kencur, manja dan masih baru belajar. Aku bangga mengajarinya pintar soal seks. Dia harus mendapatkan pelajaran seks pertama dariku. Itulah tekadku.
Aku buka tali sepatu dan aku masukkan ke kakinya. Dia duduk di kursi dan aku berjongkok di lantai. Dengan menunduk aku memperlihatkan buah dadaku dan selangkangan pahaku kepadanya. Aku tahu dia mulai melirik ke sela-sela pahaku dan sesekali matanya juga menatap tajam ke belahan dadakui. Anak laki-laki sekarang memang cepat sekali mengetahui soal seks. Apakah soal gizinya yang sudah cukup atau dia sudah mampu mengakses internet, hingga sudah bisa mengetahui banyak hal tentang seks? Entahlah. Aku tak perduli dan aku harus mendapatkannya.
"Kamu ganteng sekali, Andri. Mau ya jadi pacar tante?" kataku.
"Tante enggak punya suami?" tanyanya sembari mengikat tali sepatunya.Pertanyaan anak kecil kah ini? Atau pertanyaan orang dewasa.
"Tante sudah bercerai. Tante nggak mau dimadu, tante minta cerai," kataku bergenit-genit.
"Pacaran itu enak nggak, Tante?" tanyanya.
"Wah, tentu enak. Kalau tidak, mana mungkin orang pacaran," kataku sembari memasukkan satu lagi sepatu ke kakinya. Pembeli memang lagi sepi sore itu.
"Kalau tante jadi pacarku, kita ciuman?" katanya bertanya. Tapi tangannya terus membetuli sepatunya, seperti dia sedang bicara sesuatu yang lain. Orang lain tidak akan tahu apa yang sedang kami bicarakan.
"Tentu dong. Kalau kamu belum pernah ciuman, nanti tante ajari," kataku meyakinkannya.
Harga sepatu sudah jadi. Harganya pas sesuai harga beli. Aku tidak beruntung sedikitpun. Dia membayarnya dan menuliskan sesuatu di atas kertas. Ternyata dia menulis nomor phone cell-nya. Aku tersenyum.
Sorenya aku iseng menekan tuts HP-ku ke nomornya dan mengirimkan SMS padanya. "Hallo, Sayang. I Love u," tulisku.
Tak lama, SMS-ku terbalas. "I Love u 2" katanya. Dari SMS, dia mengatakan akan datang ke kiosku sebelum aku tutup, dia mau menciumku dan memintaku agar mengisap kontolnya seperti yang dia tonton di VCD porno.
Aku langsung menjawabnya, ”Ok, aku pasti menunggumu.”
Benar saja. Ketika aku mau tutup, dia sudah berada di depanku dengan pakaiannya yang lain dan sudah mandi bersih. Dia masuk ke dalam kios dan duduk di sebuah sudut. Nekat juga anak ini, pikirku. Apakah dia serius atau ini sebuah jebakan? Aku melihat ke sekitar, ternyata tak ada tanda-tanda dia membawa orang lain. Cepat kututup pintu kios dan melihat kondisi, meyakinkannya benar-benar aman. Setelah pintu kukunci, aku mematikan lampu dan langsung menyerbunya. Kuciumi bibirnya dan aku memeluknya sembari meraba-raba kontolnya. Aku merasa kontolnya sudah tegang dan keras. Andri meremas-remas tetekku dari balik pakaianku. Setelah puas meremas-remas tetekku dan tangannya dia masukkan ke dalam bra-ku, dia memelukku.
"Aku berdiri yang tante," katanya.
"Untuk apa, Sayang?" sahutku.
Dia tak menjawab pertanyaanku. Langsung saja dia berdiri dan aku masih duduk di kursi pendek, dia keluarkankan kontolnya dan ia rahkan ke mukaku. Cepat kutangkap kontolnya dan segera menghisap-hisap serta menjilatinya penuh nafsu.Dia memegangi kepalaku saat aku memaju mundurkan kontolnya di dalam mulutku.
Aku tak mau dia mengeluarkan spermanya di dalam mulutku, karena aku butuh kontolnya masuk ke dalam memekku. Jadi kubuka celana dalamku dan kuangkat rokku ke atas.
"Kamu duduk di kursi, Sayang," pintaku. Setelah dia duduk, aku menaikinya. Kedua telapak kakiku bertumpu ke sisi kursi dan aku jongkok mengarahkan memekku ke kontolnya. Perlahan kontolnya memasuki memekku yang sudah sangat basah. Aku segera menggoyangnya dan memutar-mutar pantatku hingga kontolnya berada pada ujung memekku yang paling dalam. Ternyata anak ini jauh lebih pintar dari Denny. Walau usia Denny sudah 19 tahun, tapi Andri memang pemuda yang kelihatan banyak menonton film porno. Dia memelukku kuat-kuat dengan gemas.
"Cepat, Tante, Andri sudah mau keluar," bisiknya takut didengar orang dari luar kios. Aku juga harus lebih dulu keluar dan mencapai puncak kenikmatanku. Kuputar dan kugoyang pantatku semakin cepat sampai akhirnya aku merasakan suatu getaran halus dari dalam diriku. Aku sampai ke puncak nikmatku. Kutekan kuat-kuat tubuhku sampai Andri merasa terbebani oleh tubuhku. Lalu dia juga menyemprotkan spermanya ke dalam memekku. Kami berpelukan erat.
Andri seorang anak laki-laki yang masih sangat remaja. Orang-orang selalu berkata, kalau bersetubuh dengan anak remaja tingting, kita harus sabar dan harus pandai meuji-mujinya. Pujian, adalah kesukaan mereka dan pujian adalah keinginan setiap laki-laki remaja.
"Kapan lagi, Tante?" katanya sambil meremas-remas tetekku.
"Kapan saja, Sayang. Tapi kalau bisa, kita harus di hotel biar bebas," kataku. Dia menyanggupi.
Sejak saat itu, kami mulai melakukannya, bukan di hotel saja, tapi lebih sering di villa orangtua Andri. Ternyata Andri anak orang yang maha kaya. Hampir setiap malam SMS-nya terkirim untukku. Kata-katanya sangat mesra, layaknya dua remaja sedang bercinta. Inilah petaka buatku. Dalam kekhilafanku, anakku membaca semua SMS itu, ketika tak sengaja HP-ku tertinggal di rumah.
Begitu aku pulang dari kios, Anto, anakku, langsung memberondongku dengan sejuta pertanyaan. ”Siapa Andri itu?”
Darahku langsung berdesir. Aku berusaha berbohong. Aku mengatakan kalau Andri adalah pelangganku. Tapi Anto meminta aku jujur. Aku menekankan kalau Andri adalah pelangganku. Tapi Anto menunjukkan selembar kertas, isi SMS Andri kepadaku yang sudah dia salin kembali. Aku tertunduk tak bisa menjawab.
"Malam ini Mama juga mau ngentot nggak sama Anto?" katanya. Aku memberikan penjelasan, kalau dia masih SMP dan belum boleh melakukannya. Lagian, dia juga anakku!
"Andri juga kan masih SMP, Ma?" katanya tegas.
”Tapi dia bukan anakku,” kataku tegas.
Anto terus memaksa, dia mengancam akan menceritakan semua ini kepada neneknya (ibuku). Dia memang sangat dekat dan dimanja oleh ibuku. Mati aku, bisikku. Aku diam saja. Tetap berusaha menolak bersetubuh dengannya.
Besoknya, Anto tidak pulang ke rumah. Kuhubungi HP-nya, tidak aktif. Aku sangat kesal. Aku juga takut kalau-kalau Anto pergi entah kemana. Aku hubungi teman-temannya, mereka juga mengatakan tidak tahu Anto pergi kemana. Menurut salah seorang temannya, Anto sudah membawa beberapa setel pakaian dalam ranselnya.
Aku menghubungi ibuku. Beliau juga terkejut dan malah aku dimarahi kalau sampai cucunya tak ditemukan. Aku mengatakan hanya terjadi pertengkaran kecil saja dengan Anto. Aku berbohong kepada ibuku.
Esoknya aku tidak buka kios dan aku ke sekolahnya, ternyata Anto tidak masuk sekolah. Dua hari dia tidak masuk sekolah dan aku sudah kesusahan. Apakah dia pergi ke rumah ayahnya? Kalau itu yang terjadi, aku bakal kehilangan dirinya untuk selama-lamanya, apalagi kalau Anto sempat bercerita kepda ayahnya tentang pacarku yang bernama Andri. Hak mengasuh anak akan jatuh ke tangan suamiku.
Tidak ingin itu terjadi, segera aku kirimkan SMS kepada Anto. "Sayang, pulanglah. Mama sangat rindu. Apa pun yang Anto minta, akan mama kabulkan."
Dadaku berdetak keras menunggu jawabannya. Aku berharap Anto mau pulang ke rumah, karena dia adalah milikku satu-satunya. Tiba-tiba HP-ku bergetar. Segara kubuka. Dari Anto. "OK, Sayang. Aku sedang menuju pulang," katanya.
Seeerrrr... darahku terasa kembali mengalir. Cepat aku membenahi diriku. Aku tak mau kelihatan kusut. Aku menunggu Anto. Detik-detik terasa sangat lambat sekali dan membosankan. Bagaimana Anto yang sudah tiga hari tidak bertemu denganku. Apakah dia sehat?
Kembali darahku berdesir begitu melihat Anto sudah berada di ambang pintu rumah. Kusongsong dia dan kupeluk tubuhnya dengan penuh kasih sayang. Dia cepat masuk ke dalam rumah dan menutup pintu lalu menguncinya. Di seretnya aku ke dalam kamarnya.
"Ada apa, Sayang?" kataku. Anto tak menjawab. Dia membuka semua pakaiannya dan bugil.
"Mama buka juga," katanya seperti memerintah. Aku terkesima. Sampai akhirnya Anto yang mendatangiku dan membuka semua pakaianku. "Sesuai janji dalam SMS," katanya.
Aku terdiam pasrah, kubiarkan dia membuka seluruh pakaianku sampai aku telanjang bulat. Kubiarkan dia melihat seluruh tubuhku. Ingin rasanya aku mencekik dan membunuhnya karena dia telah memperlakukan ibunya seperti ini. Tapi mana bisa, kehilangan dia dua hari saja sudah membuat aku kelimpungan!
Anto memelukku dan mengisap tetekku. Lalu dia meraba memekku dan memasukkan jarinya ke celah-celah memekku. Mulanya aku biasa saja, tapi lama kelamaan aku menjadi bergetar juga. Semua yang dia lakukan, persis seperti apa yang dilakukan oleh Andri. Aku baru sadar, kalau dia sudah membaca semua SMS Andri. Semua yang dilakukannya kepadaku, Andri tulis di dalam SMS yang dia kirimkan. Anto mengikuti isi SMS Andri itu rupanya. Dasar aku perempuan yang haus akan seks, rabaan Anto anakku itu membuatku birahi juga pada akhirnya. Aku birahi dengan anak kandungku sendiri.
Didorongnya aku ke ranjang. Lalu dikangkangkannya kedua pahaku dan ia mulia menjilati lubang memekku dengan rakus. Lagi-lagi aku mengingat isi SMS Andri padaku yang puas menjilati memekku. Aku jadi lupa kalau yang sekarang sedang melakukan itu kepadaku adalah Anto, anakku sendiri. Aku mengimbanginya dengan mengelus-elus kepalanya. Perutku sudah pula dijilatinya dan kini mulutnya sudah menjilati dan menghisap-hisap lagi tetekku. Aku menggelinjang. Anak yang hampir 13 tahun itu begitu rakus dan begitu beraninya memperlakukan aku seperti kekasihnya sendiri.
Sambil aku memberikan respon, aku bertanya kepadanya. "Apakah sebelumnya kamu sudah pernah melakukan yang seperti ini, Sayang?" kataku.
"Sudah!" jawabnya singkat dan terus menjilati tetekku.
"Sama siapa, Sayang?" aku jadi gelisah dan resah sembari menikmati juga jilatan dan hisapannya.
"Sama Bibi," katanya. Ah, bajingan! Ternyata anakku sudah melakukannya dengan adik perempuanku yang juga baru saja bercerai.
"Dimana, Sayang?"
"Di rumah nenek."
"Kapan, Nak?"
"Bulan lalu,"
"Berapa kali, Nak?"
"Enam kali," katanya tanpa ragu. Pantas Anto sudah ketagihan seks, karena dia sudah merasakan nikmatnya seks dalam usia yang sangat muda sekali. Sama seperti Andri yang sudah ketagihan seks denganku.
Kuraba kontol Anto yang sudah mengeras. Dia sudah menindih tubuhku dan mencari-cari lubang memekku. Aku menuntunnya dan memasukkan kontolnya ke lubangku. Begitu cepatnya kontol itu memasuki lubangku dan Anto segera mengocoknya lembut disana. Kontol Anto sama besarnya dengan kontol Andri.
Ketika ujung pentilku digigit-gigitnya, aku menggelinjang. Aku mulai merasakan nikmatnya. Kami berpelukan dan saling menggoyang. Anto jauh lebih pintar dari Andri, apalagi jika dibandingkan dengan Denny yang sudah 19 tahun itu. Aku mengangkat kedua kakiku tinggi-tinggi agar kontol Anto kebih leluasa keluar-masuk.
"Ma, mulai sekarang, mama nggak boleh lagi sama Andri. Anto yang akan menggantikan Andri." katanya sembari terus mengocokkan kontolnya ke memekku.
"Iya, Sayang," aku menyahut pendek.
"Daripada mama berikan dia celana, kan lebih bagus mama berikan kepada Anto, anak mama sendiri," katanya lagi.
"Iya, Mama janji, Sayang." kataku.
Kami terus saling memuaskan dan saling menggoyang. Sejak saat itu, kami terus melakukan persetubuhan dan aku tidak mau lagi menggoda laki-laki lain yang merugikan usahaku.
Anto harus tetap menjadi milikku, bukan milik ayahnya. Lahir batin Anto adalah milikku.
Aku di perkosa Anakku
Namaku Ibu Ida (Nama Samaran), sekarang (Th 2008) usiaku
51 tahun, PNS di kota Bandung, Anakku yang pertama, laki-
laki lahir tahun 1979 ..namanya Hendi.
Anakku yang kedua, perempuan lahir tahun 1981.namanya
Wina.
Anakku yang ketiga, perempuan lahir tahun 1984.namanya
Dewi.
Pada tahun 1990 aku dan suamiku bercerai, ketiga anak-
anakku ikut bersamaku.. kehidupan kami pada sa'at itu tidak
ada masalah terutama dari segi ekonomi, karena selain aku
bekerja sebagai PNS, orang tuaku meninggalkan warisan
cukup besar, sampai aku bisa mempunyai rumah sendiri, bisa
beli mobil, perabotan rumah tangga yang lux, dan sisanya
aku depositokan.
Sampai akhirnya anakku yang kedua.Wina, pada tahun 2002
menikah, selang beberapa bulan anakku yang pertama..Hendi
diterima bekerja di ******** yang cukup ternama di kota
Bandung.., setelah beberapa bulan dia menganggur setamat
kuliahnya, DIII jurusan ******
Pada tahun 2004, anakku yang bungsu..Dewi menikah, .sejak
sa'at itu aku tinggal hanya berdua dengan anakku yang
pertama.Hendi, Aku sering menggonjak Hendi "Hen..lihat
adikmu semua sudah menikah...kapan kamu nikah ???"..Hendi
selalu cuek saja, malahan kelihatannya dia seperti belum
pernah punya pacar.dia anaknya agak pendiam dan
tertutup.
Akhirnya terjadilah suatu kejadian yang tak akan pernah
aku lupakan dan tak terbesit sedikitpun dalam pikiranku, hal
itu akan terjadi menimpaku.. Kejadian itu sekitar awal tahun
2005...
Suatu malam,.malam minggu, aku seperti biasanya sekitar
jam 9 malam pergi beranjak menuju pembaringan untuk
tidur.. setelah aku tertidur.. tiba-tiba aku terbangun, karena
merasa ada yang menindih di punggungku, waktu itu posisi
tidurku tengkurap..aku segera menoleh ke arah wajah yang
dekat dengan pipiku, nafasnya yang ngos-ngosan terasa di
pipiku.. Astaga.ternyata dia anakku..Hendi, tetapi sa'at itu aku
masih belum pulih betul dari rasa kantuk, selang beberapa
detik aku baru benar-benar sadar dan hilang sudah rasa
kantukku..Aku Kaget, .Aku hanya memakai CD dan BH saja.
Hendi sedang menggenjot-genjot. pantatnya naik-turun
perlahan-lahan dan keadaannya telanjang bulat, terasa
sekali di belahan pantatku penisnya yang hangat sedang
menggesek-gesek..lantas dengan refleks aku segera
membalikkan badan dan memakinya..sumpah serapah keluar
dari mulutku...dia diam saja dan tidak perduli.malahan dia
semakin beringas.. tenaganya seperti ada yang
membantunya.kuat sekali...Akhirnya aku sampai menangis
diiringi omelan-omelan kasar .. tetapi dia."Hendi" Anakku tidak
perduli dan sepertinya tidak mempunyai rasa iba.
Akhirnya Aku berhasil dia telanjangi dan posisiku sa'at itu
terlentang sambil ditindih dia...anehnya dia tidak segera
memasukkan penisnya ke lubang vaginaku,.penisnya
terhimpit oleh bagian bawah perutnya dan bagian bawah
perutku atau bukit vaginaku, sambil dia menggenjot-
genjotkan pantatnya perlahan-lahan naik turun serta
payudaraku disosor mulutnya dan diremas-remas oleh
kedua tangannya...lama kelamaan aku berhenti dari
tangisanku..dan ..mau tidak mau / suka tidak suka.aku mulai
terangsang juga dan merasa enak (wanita manapun
mungkin akan merasakan hal yang sama denganku, apalagi
aku sudah lama tidak merasakan bersetubuh) .
Setelah aku terdiam.dan nafasku mulai ngos-ngosan serta
dadaku naik turun agak cepat, "Hendi".. anakku seperti sudah
faham.. lalu dia memasukkan jari tengahnya ke lobang
vaginaku.sambil dikocok-kocok keluar masuk..dinding dalam
vaginaku sudah licin karena cairan vaginaku sudah keluar
akibat rangsangan yang dilakukan oleh Hendi..., setelah
beberapa menit kemudian.. Hendi mulai menghentikan
kocokan jari tengahnya. dan dia mulai memasukkan penisnya.
sa'at itu aku menutup mata rapat-rapat dan merasakan
masuknya penis Hendi. perlahan tapi pasti, akhirnya seluruh
batang penis Hendi tertelan vaginaku..aku kaget juga, penis
Hendi besar dan panjang, terasa sekali mengganjal hangat di
dalam rahimku..apalagi dia mulai menggerakan penisnya
keluar masuk perlahan-lahan seperti dihayati dan
genjotannya terasa lembut,.. sambil dia memeluk erat
tubuhku. nafasnya terasa hangat dan ngos-ngosan di
leherku
Entah berapa lama Hendi menyetubuhiku.. yang kurasakan
sa'at itu benar-benar dibuai oleh kenikmatan dan dalam
pikiranku, aku bayangkan saja ..aku sedang digenjot oleh
pemain sinetron idolaku.. tiba-tiba aku tak tahan lagi,
sepertinya seluruh tubuhku akan meletus. terutama bagian-
bagian vital tubuhku..payudaraku rasanya ingin didekap terus
oleh hangatnya dada yang memelukku..vagina bagian
dalamku rasanya akan mengeluarkan sesuatu. dan tanpa
sadar aku pun langsung menjerit tetapi jeritanku agak aku
tahan karena takut terdengar oleh tetangga.
Hampir bersamaan dengan puncak kenikmatan yang aku
rasakan.aku dibuat kaget karena di dalam rahimku.penis
Hendi yang mengganjal dan terasa agak panas,
mengeluarkan cairan yang rasanya juga agak panas.
(nikmatnya tidak bisa dibayangkan). semprotan air mani
Hendi terasa menembak di dalam rahimku dan keluarnya
banyak sekali. (rasanya seperti di stroom). lantas dia
menekan kuat-kuat pantatnya dan dengan refleks pula aku
ikut membantunya dengan memegang pantatnya sambil
kucengkram kuat dan ditekan kearahku. akupun menjerit
untuk kedua kalinya bersamaan dengan erangan Hendi...
Malam itu aku digenjot "Hendi",.anakku.. sampai 3 kali.. dan pagi
harinya badanku serasa lemas..tetapi perasaanku terasa
sangat bahagia, sepertinya seluruh beban/problemku serasa
sirna...
Selama dua hari setelah kejadian itu, kami tidak saling tegur
sapa. dan pada malam harinya, Hendi kembali masuk ke
kamarku. Aku diam saja (seperti gedebong pisang).. tubuhku
digumuli Hendi. payudaraku diremas-remas dan dijilatinya..
vaginaku dijilati.. dan malam itu aku disetubuhinya 2 kali,..
keesokan harinya aku mulai membuka komunikasi dengan
Hendi.. diawali dengan pembicaraan bahwa "kejadian ini
jangan sampai bocor ke orang lain.. cukup menjadi rahasia
kita berdua"...., selanjutnya keadaan seperti semula tetapi
Hendi berubah menjadi manja dan dia tidak pendiam lagi,
malahan sangat terbuka.. Akupun semakin sayang
kepadanya.
Seminggu 2 kali kami bersetubuh,. layaknya seperti suami
istri, akupun tidak seperti gedebong pisang lagi,.kami sering
nonton DVD XXX dan mempraktekkan gaya-gaya yang ada
di film itu..
2 Tahun lamanya kami berhubungan intim (INCEST). Lantas
kami sepakat untuk tidak melakukannya lagi, 3 bulan setelah
itu Hendi menikah, tetapi dia tidak mau pisah denganku.
padahal dia sudah punya cukup tabungan untuk membeli
rumah dan kekurangannya sedikit aku sanggup
menanggungnya.
Hendi dan istrinya tinggal bersama di rumahku.. Kami hidup
bahagia, apalagi setelah kehadiran cucuku dari Hendi ..
bertambahlah cucuku menjadi 5 orang (dari Wina dan Dewi).
51 tahun, PNS di kota Bandung, Anakku yang pertama, laki-
laki lahir tahun 1979 ..namanya Hendi.
Anakku yang kedua, perempuan lahir tahun 1981.namanya
Wina.
Anakku yang ketiga, perempuan lahir tahun 1984.namanya
Dewi.
Pada tahun 1990 aku dan suamiku bercerai, ketiga anak-
anakku ikut bersamaku.. kehidupan kami pada sa'at itu tidak
ada masalah terutama dari segi ekonomi, karena selain aku
bekerja sebagai PNS, orang tuaku meninggalkan warisan
cukup besar, sampai aku bisa mempunyai rumah sendiri, bisa
beli mobil, perabotan rumah tangga yang lux, dan sisanya
aku depositokan.
Sampai akhirnya anakku yang kedua.Wina, pada tahun 2002
menikah, selang beberapa bulan anakku yang pertama..Hendi
diterima bekerja di ******** yang cukup ternama di kota
Bandung.., setelah beberapa bulan dia menganggur setamat
kuliahnya, DIII jurusan ******
Pada tahun 2004, anakku yang bungsu..Dewi menikah, .sejak
sa'at itu aku tinggal hanya berdua dengan anakku yang
pertama.Hendi, Aku sering menggonjak Hendi "Hen..lihat
adikmu semua sudah menikah...kapan kamu nikah ???"..Hendi
selalu cuek saja, malahan kelihatannya dia seperti belum
pernah punya pacar.dia anaknya agak pendiam dan
tertutup.
Akhirnya terjadilah suatu kejadian yang tak akan pernah
aku lupakan dan tak terbesit sedikitpun dalam pikiranku, hal
itu akan terjadi menimpaku.. Kejadian itu sekitar awal tahun
2005...
Suatu malam,.malam minggu, aku seperti biasanya sekitar
jam 9 malam pergi beranjak menuju pembaringan untuk
tidur.. setelah aku tertidur.. tiba-tiba aku terbangun, karena
merasa ada yang menindih di punggungku, waktu itu posisi
tidurku tengkurap..aku segera menoleh ke arah wajah yang
dekat dengan pipiku, nafasnya yang ngos-ngosan terasa di
pipiku.. Astaga.ternyata dia anakku..Hendi, tetapi sa'at itu aku
masih belum pulih betul dari rasa kantuk, selang beberapa
detik aku baru benar-benar sadar dan hilang sudah rasa
kantukku..Aku Kaget, .Aku hanya memakai CD dan BH saja.
Hendi sedang menggenjot-genjot. pantatnya naik-turun
perlahan-lahan dan keadaannya telanjang bulat, terasa
sekali di belahan pantatku penisnya yang hangat sedang
menggesek-gesek..lantas dengan refleks aku segera
membalikkan badan dan memakinya..sumpah serapah keluar
dari mulutku...dia diam saja dan tidak perduli.malahan dia
semakin beringas.. tenaganya seperti ada yang
membantunya.kuat sekali...Akhirnya aku sampai menangis
diiringi omelan-omelan kasar .. tetapi dia."Hendi" Anakku tidak
perduli dan sepertinya tidak mempunyai rasa iba.
Akhirnya Aku berhasil dia telanjangi dan posisiku sa'at itu
terlentang sambil ditindih dia...anehnya dia tidak segera
memasukkan penisnya ke lubang vaginaku,.penisnya
terhimpit oleh bagian bawah perutnya dan bagian bawah
perutku atau bukit vaginaku, sambil dia menggenjot-
genjotkan pantatnya perlahan-lahan naik turun serta
payudaraku disosor mulutnya dan diremas-remas oleh
kedua tangannya...lama kelamaan aku berhenti dari
tangisanku..dan ..mau tidak mau / suka tidak suka.aku mulai
terangsang juga dan merasa enak (wanita manapun
mungkin akan merasakan hal yang sama denganku, apalagi
aku sudah lama tidak merasakan bersetubuh) .
Setelah aku terdiam.dan nafasku mulai ngos-ngosan serta
dadaku naik turun agak cepat, "Hendi".. anakku seperti sudah
faham.. lalu dia memasukkan jari tengahnya ke lobang
vaginaku.sambil dikocok-kocok keluar masuk..dinding dalam
vaginaku sudah licin karena cairan vaginaku sudah keluar
akibat rangsangan yang dilakukan oleh Hendi..., setelah
beberapa menit kemudian.. Hendi mulai menghentikan
kocokan jari tengahnya. dan dia mulai memasukkan penisnya.
sa'at itu aku menutup mata rapat-rapat dan merasakan
masuknya penis Hendi. perlahan tapi pasti, akhirnya seluruh
batang penis Hendi tertelan vaginaku..aku kaget juga, penis
Hendi besar dan panjang, terasa sekali mengganjal hangat di
dalam rahimku..apalagi dia mulai menggerakan penisnya
keluar masuk perlahan-lahan seperti dihayati dan
genjotannya terasa lembut,.. sambil dia memeluk erat
tubuhku. nafasnya terasa hangat dan ngos-ngosan di
leherku
Entah berapa lama Hendi menyetubuhiku.. yang kurasakan
sa'at itu benar-benar dibuai oleh kenikmatan dan dalam
pikiranku, aku bayangkan saja ..aku sedang digenjot oleh
pemain sinetron idolaku.. tiba-tiba aku tak tahan lagi,
sepertinya seluruh tubuhku akan meletus. terutama bagian-
bagian vital tubuhku..payudaraku rasanya ingin didekap terus
oleh hangatnya dada yang memelukku..vagina bagian
dalamku rasanya akan mengeluarkan sesuatu. dan tanpa
sadar aku pun langsung menjerit tetapi jeritanku agak aku
tahan karena takut terdengar oleh tetangga.
Hampir bersamaan dengan puncak kenikmatan yang aku
rasakan.aku dibuat kaget karena di dalam rahimku.penis
Hendi yang mengganjal dan terasa agak panas,
mengeluarkan cairan yang rasanya juga agak panas.
(nikmatnya tidak bisa dibayangkan). semprotan air mani
Hendi terasa menembak di dalam rahimku dan keluarnya
banyak sekali. (rasanya seperti di stroom). lantas dia
menekan kuat-kuat pantatnya dan dengan refleks pula aku
ikut membantunya dengan memegang pantatnya sambil
kucengkram kuat dan ditekan kearahku. akupun menjerit
untuk kedua kalinya bersamaan dengan erangan Hendi...
Malam itu aku digenjot "Hendi",.anakku.. sampai 3 kali.. dan pagi
harinya badanku serasa lemas..tetapi perasaanku terasa
sangat bahagia, sepertinya seluruh beban/problemku serasa
sirna...
Selama dua hari setelah kejadian itu, kami tidak saling tegur
sapa. dan pada malam harinya, Hendi kembali masuk ke
kamarku. Aku diam saja (seperti gedebong pisang).. tubuhku
digumuli Hendi. payudaraku diremas-remas dan dijilatinya..
vaginaku dijilati.. dan malam itu aku disetubuhinya 2 kali,..
keesokan harinya aku mulai membuka komunikasi dengan
Hendi.. diawali dengan pembicaraan bahwa "kejadian ini
jangan sampai bocor ke orang lain.. cukup menjadi rahasia
kita berdua"...., selanjutnya keadaan seperti semula tetapi
Hendi berubah menjadi manja dan dia tidak pendiam lagi,
malahan sangat terbuka.. Akupun semakin sayang
kepadanya.
Seminggu 2 kali kami bersetubuh,. layaknya seperti suami
istri, akupun tidak seperti gedebong pisang lagi,.kami sering
nonton DVD XXX dan mempraktekkan gaya-gaya yang ada
di film itu..
2 Tahun lamanya kami berhubungan intim (INCEST). Lantas
kami sepakat untuk tidak melakukannya lagi, 3 bulan setelah
itu Hendi menikah, tetapi dia tidak mau pisah denganku.
padahal dia sudah punya cukup tabungan untuk membeli
rumah dan kekurangannya sedikit aku sanggup
menanggungnya.
Hendi dan istrinya tinggal bersama di rumahku.. Kami hidup
bahagia, apalagi setelah kehadiran cucuku dari Hendi ..
bertambahlah cucuku menjadi 5 orang (dari Wina dan Dewi).
Cerita Seru - Di Rumah Nenek
Nenek menjujung satyuran di kepalanya serta menenteng cucian sedang aku memikul kayu-layu ranting untuk kebutuhan memasak. Kami berjalan menuju rumah. Kami tiba sebelum mahgrib tiba. Cepat nenek menyiapkan makanan malam kami, sembari melaksanakan shalat mahgrib. Tidak seperti t ahun lalu, kami harus memasang lampu minyak, karean listruik belum masuk. Tapi kedatanganku kali ini, listrik sudah masuk, hingga tak perlu repot lagi memasang lampu mintyak tanah. Segarnya udara desa membuat makanku lahap, terlebih telah letih nmembantu nenek di ladang serta berendam di air sungai sebelum pualng. Baru saja pukul delapan malam, mataku sudah mengantuk. Aku memakai kain sarung untuk tidur dan nenek sudha menyiapkan tempat tidur kami. Seperti biasa, kemanjaanku jika ke rumah nenek, aku selalu tidur dengannya, dan kakek selalu saja mengungsi untuk tidur. Malam ini walau ibuku sudah menyiapkan sebuah kamar lengkap dengan tempat tidurnya serta sebuah meja kecil untuk tempatku belajar, nenek tetap saja memintaku untuk tidur bersamanya. Akhirnya aku tidur dengan nenek di atas ranjang yang biasa aku tiduri setiap kali aku ke desa. Tengah malam, aku kedinginan. Kecika aku kecil, biasanya aku dibawa nenek ke dalam kain sarungnya, kemudian kami ditindih dalam satu selimut tebal, agar aku hangat. Kali ini, justru aku yang memasuki kain sarung nenek. Kubuka kain sarung nenek dan aku masuk ke dalamnya. Saat nenek terbangun waktu aku memasuki kain saruingnya, dia hanya tersenyu saja. "Dingin..." sapanya. Nenek malah melebarkan akin sarungnya agak aku bisa masuk ke dalamnya menjadi satuy kain sarung dengannya. Kemudian nenek menindih tubuh kami dengan selimut tebal. Aku merasa hanya. Saat aku mau memperbaiki sarungku, tangankiu tang kuturunkan ke bawah, menyentuh bulu-buu du selangkangan nenek. Ternyata sejak dulu nenek tak pernah memakai celana dalam kalau tidur. Tiba-tiba burungku mengeras. Nenek terus memelukku, agar aku hangat. Otakku mulai berpikir keras, bagaimana agar kain sarungku sendiri bisa kulorotkan. Dengan demikian burungku akan berhadapan langsung dengan Anu-nya nenek. Perlahan kulepas gulungan kain sarungku dan aku melorotkannya ke bawah dengan hati-hati dengan kedua kakiku. Sampai kemudian aku merasakan kulit perutku dan perut nenek mulai bersentuhan. Saat tangan nenek mau membetulkan kain sarungku aku langsung memeluk nenek kuat-kuat. Nenek mengira, aku benar-benar kedinginan. Makin lama, sarungku makin kebawah dan akhirnya terlepas dari tubuhku. KUmasukkan sebelah kakiku ke antara kedua kaki nenek. Pahaku sudah menrasakan gesekan halus bulu-bulu yang ada di pangkal paha nenek. Burungku sudah mengeras dan berdiri tegak, sudah berada di antara kedua paha nenek. "Hmmmm...." nenek mendehem. Aku tak perduli, Nafsuku sudah benar-benar tak bisa aku kontrol. BYUkankah aku cucu kesayangan nenek. Aku yakin, nenek tidajk akan melaporkan aku kepada siapapun. Aku mengelus pantat nenek dan kembali nenek mendehem. Dengan sebuah gerakan yang cepat, aku menaiki tubuh nenek dan kedua kakiku sudah berada di antara kedua kakinya. Aku arahkan dengan sebelah tanganku ujung burungku ke Anu nenek. Aku merasakan ujung mulut burungku sudah menempel di tempat yang lembab dan hangat. Saat itu, nenek berusaha menolak diriku. Apakah burungku terlalu kcil atau Anu nenek yang sudah basah atau entah apa namanya, tau-tau burungku sudah berada di dalam lubang Anu nenek. "Hmmm..." nenek kembali mendehem. Aku pun mulai secara reflek memompa tubuh nenek, seperti yang selalu kami saksikan dalam BF dengan teman-teman. Terus menerus tubuh nenek aku pompa. Selimut tebal yang menindih tubuh kami sudah terlepas dari tubuh kami ke lantai. Demikian juga kain sarung nenek, sudah melorot ke bawah. AKu berusaha melepaskan kain sarung itu bisa lepas dari tubuh kami. Akhirnya dengan tangan dan kakiku, kain sarung itu, lepas juga dari tubuh kami, hingga kami sudah setengah telanjang. Kulihat mata nenekku masih tertutup. Aku memeluknya dan terus menggenjotnya dari dari atas. Sampai akhirnya kedua kaki nenek mengangkang lebar dan aku mendengarkan nafasnya memburu. Aku memeluknya dan terus memompanya. AKu semakin tak tahan dan mempercepat genjotanku pada lubang nenek. Aku merasakan, kedua tangan nenek memelukku dari bawah dan aku merasakan dengusan nafasnya di leherku. "Ahhh...." aku melepaskan spermaku beberapa kali ke dalam lubang nenek. Kutekan tubuhnya dan aku memeluknya kuat. Sebaliknya aku merasakan nenek balas memelukku dari bawah pada tubuhku, Walau spermaku sudah habis kutumpahkan, nenek masih memelukku dan nafasnya mendengus-dengus dan kemudian perlahan pelukannya melemah. Burungku mengecil dan meluncur keluar dari lubang nenek. Aku turun dari tubuh nenek dan terbaring di sisinya. TIba-tiba nenek menarik kembali selimut dan menutupi kedua tubuh kami, tanpa kain sarung. "Ayo... bangun..." mandi dulu, biar sarapan," kata nenek membangunkanku yang terlambat bagun. Saat aku terbangun, nenek sudah keluar dari kamar. Kubuka selimut dan aku terkejut, kenapa aku tidak memakai kain sarung. Aku baru teringat kembali apa yabng terjadi tadi malam. Aku tersenyum sendiri. Aku langsung ke belakang rumah dan menimba air dari sumur, memenuhi beberapa ember, baru aku mandi. Nenek sudah siap memasak sarapan dan sudah terhidng di atas meja makan. Kulihat nenek sudah siap sarapan dari piring bekas yang ada di atas meja. Usai makan, aku tidak melihat lagi nenek di rumah. Pasti sudah ke ladang, pikirku. Aku menutup dan mengunci rumah, aku menyusulnya ke ladang. Aku mendekati nenek dan membantunya bekerja. Kami bercerita, kalau sebentar lagi buah manggis akan matang dan bisa di jual ke pasar. Mungkin minggu depan kami sudah bisa menjualnya. Nenek berjanji akan membelikan aku sepatu batu, Aku senang sekali. Siangnya, kami makan di gubuk ladang yang dari rumah hanya berkisar 300 meter saja. Sorena sebelum kembali ke rumah, kami mandi lagi di sungai seperti kemarin dan nenek tetap mandi telanjang, setelah itu dia memandikanku dan menyabuni tubuhku. Malamnya kami tdiru bersama lagi dan demikian untuk seterusnya. Malam ke empat di rumah nenek, entah kenapa, tiba-tiba nafsuku bangkit lagi. Aku tidak memasuki sarung nenek, melainkan, aku menurunkan sarung nenek sampai lepas dari tubuhnya. Saat aku menurunkan sarung nenek, nenek hanya mendehem saja dan berusaha menahan kain sarungnya jangan sampai turun. Tanganku lebih kuat dan lebih cepat, hingga sarung nenek sudah lepas dari tubuhnya. Kubuang sarung itu ke lantai. Nenek pun membelakangi tubuhku, dia tidur miring. Aku melepas kain sarungku pula serta semua yang melekat di tubuhku. Setelah itu, aku memeluk nenek dan meraba-raba bulu-bulu yang ada di bawah pusatnya. Nenek hanya mendehem dan berusaha agar tanganku tidak merabanya. Tapi jari tanganku bahkan sudah memasuki lubang lembab dan hangat itu. Aku permainkan jariku di lubang nenek. Sebelah tanganku melepaskan pakaian nenek bagian atas. Nenek tetap meniolak dengan tangannya. Kutelentangkan nenek dan kukangkangkan kedua kakinya dan aku berada di antara kedua kakinya, lalu aku mengarahkan burungku ke lubang lembab beraroma khas itu. Clup, burungku sudah memasukinya. Aku menindih tubuh nenek dengan matanya yang terpejam. Seperti kodok, aku mulai membuka pakaian atas nenek. Walau nenek berusaha melawan, tapi akhirnya, pakaian itu le4pas juga dan kami sama-sama bugil. Tetek nenek yang besar berwarna coklat dengan pentilnya berwarna hitam, langsung aku sedot-sedot. Aku mulai mengenjor nenek dari atas. Butungku yang besarnya biasa saja, tetap keras, ketika aku semakin cepat menggenjotnya. "Ah... akh..." nenek mendesah dan menggerak-gerakkan pantatnya dari bawah. Kami berpelukan dan terus saling menggoyang sampai akhirnya aku berbisik ke telingan nenek. "Nek... aku mau keluaaaaarrrr..." Nenek diam saja dan terus menggoyang-goyangkan tubuhnya dari bawah dengan nafasnya yang memburu serta memelukku kuat. Kami berpelukan, makin lama makin kuat. Aku tak mampu menahan ledakan dari dalam tubuhku dan aku memuncratkan spermaku beberapa kali dan nenek tetap memelukku dengan kuat. Kemuduian kami tertidur pulas. Pulang dari pasar, nenek benar-bvenar membelikan aku sepatu baru untuk sekolah, juga pakaian dan aku meminta jacket. Banyak kebutuhanku yang dibelikan nenek. Orang-orang desa mulai angkat suara membuat nenek bangga. "Wah... borong semua untuk cucu ya. Enak punya cucu, uang habis gak terasa..." ocehan tetangga. Nenekku senyum dan bangga. Beberapa malam kami tidak melakukannya. Setiap kami melakukannya, kami tak pernah menyinggung sedikit pun apa yang telah kami lakukan pada malam harinya. Kami hanya cerita yang lain, bahkan seakan tidak pernah terjadi apa-apa pada diri kami. Karean letihnya begitu usai makan malam, aku langsung minta diri untuk tidur. Aku merasa diriku melayang-layang di udara entah dimana dan mau kemana. Aku merasa sangat nikmat. Saat aku sadar dan membuka mataku, burungku sudah berada dalam kuluman mulut nenekku. Sampai akhirnya burungku keras sekali. Aku mengelinjang. Aku merasa tubuhku, ternyata tubuhku sudah telanjang bulat, Saat kuintip dari sebelah mataku, nenek juga sudah telanjang bulat. Nenek naik mengangkangi tubuhku. DItangkapnya burungku dan dicelupkannya ke dalam lubangnya. Kedau tangannya berada di sisi dadaku, Dengkulnya juga berada di sisi tubuhku. Aku merasa nenek menekan tubuhnya kuat-kuat dan burungku terbenam habis dalam lubangnya. Tak lama kemudian nenek memutar-mutar pantatnya, membuat burungku terasa dipelintir-pelintir di dalam lubangnya. Aku pun menggelinjang. Tapi seperti kebiasaan kami, antara aku dan enenk saat bersetubuh, tidak pernah mengeluarkan kata-kata, kecuali ah... ssstttt dan hanya satu kata saja. Kami sudah saling mengerti. Nenek menekankann teteknya ke dadaku. Daging kenyal itu membuatku sangat bergairan dan aku memeluknya dengan kuat. Nenek mengecup bibirku dan menjulurkan lidahnya ke mulutku. Leherku dijilatinya dan nenek menecup di bagian-bagian tubuhku. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Dan kami saling memeluk kuat dan mendesah, lalu aku melepaskan spermaku dalam lubang nenek. Nenekpun melemah dan emnindih tubuhku dengan dengusan nafas memburu. Kami pun tertidur seperti biasa sampai pagi.
Senin, 21 Juli 2014
Punya ibu tiri itu ternyata enak
Namaku
Kemal, lahir di kota Tegal 25 tahun yang lalu. Aku menyelesiakan kuliah
di fakultras kedokteran 3,5 tahun yang lalu, dilanjutkan dengan praktek
asisten dokter (koas) selama setahun dan kemudian mengikuti ujian
profesi dokter. Kini aku sudah resmi menyandang gelar dokter di depan
namaku dan sebagai tahap terakhir, aku kini sedang mengikuti praktek di
puskemas di daerah terpencil sebagai bentuk pengabdian sebelum mendapatkan izin praktek umum.
Aku dibesarkan di kota kelahiranku sampai SMU dan
kemudian menjutkan kuliah di Jogja. Keluargaku sebenarnya bukan keluarga
broken home, namun karena ayahku yang berpoligami jadi aku agak jarang
berinteraksi dengan ayahku, lebih banyak dengan ibuku dan 2 orang
adikku.
Seperti kebanyakan orang sukses di kotaku, Ayah adalah
seorang pengusaha warung makan yang lebih dikenal dengan sebutan Warteg.
Sejak aku SMP, ayahku sudah punya 2 warteg di kota asalku, 4 di Jakarta
dan 2 gerai di Jogja. Berbekal kesuksesan itulah Ayah yang dulu hanya
beristrikan ibuku, mulai buka cabang di Jakarta dan Jogja. Alasannya
sederhana: butuh tempat singgah waktu memantau jalannya usaha. Pada
awalnya, aku sebagai anak sulung, menjadi anaknya yang menentang
poligami Ayah. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 3 SMU dan Ayah
pertama kalinya berpoligami dengan menikahi seorang gadis yang usianya
hanya terpaut 10 tahun dariku. Namun justru ibuku yang mendamaikan
perselisihanku dengan Ayah dengan alasan klasik yaitu Ayah sudah
berjanji untuk tetap membiayai hidup kami dan sebagai jaminannya, 2
warteg di Tegal secara penuh menjadi milik Ibu.
Berbekal pendapatan
dari usaha warteg itulah, aku bisa kuliah sampai menjadi dokter saat
ini, dan tentu saja ibuku sangat bangga karena aku sebagai putra
sulungnya berhasil mandiri dan menjadi contoh buat adik-adikku.
Lalu
bagaimana dengan perselisihanku dengan Ayah? Wah, sejak Ibu sudah
memaklumi Ayah, aku pun sudah tidak pernah mengungkitnya lagi.
Hubunganku dengan Ayah, bahkan dengan dua isteri muda Ayah baik-baik
saja. Bahkan Ayah menyempatkan diri hadir dalam wisudaku dulu.
Isteri
kedua ayah, yang berarti ibu tiriku, bernama Nurlela, tinggal di sebuah
perumahan di daerah Bintaro. Dari hasil pernikahan dengan Mama Lela
(begitu Ayah menyuruhku memanggilnya), Ayah dikaruniai 2 orang anak.
Setelah 5 tahun menikah dengan Nurlela, Ayah kemudian “buka cabang” lagi
di Jogja, kali ini dengan seorang janda beranak satu, bernama Windarti,
yang kupanggil dengan Mama Winda, usianya bahkan hanya terpaut 6 tahun
denganku.
Sebagai seorang lelaki, aku harus jujur untuk mengacungkan
jempol buat Ayah dalam memilih isteri muda. Kedua “gendukan”-nya,
meskipun tidak terlalu cantik, namun punya kemiripan dalam hal body,
yaitu “toge pasar”. Rupanya selera ayah mengikuti tren selera pria masa
kini yang cenderung mencari “susu” yang montok dan goyangan pantat yang
bahenol.
Dari dua ibu tiriku itu, tentu saja aku lebih akrab dengan
Mama Winda, karena selama aku kuliah di Jogja, setiap akhir bulan aku
menyempatkan bermalam di rumahnya yang juga lebih sering ditinggali
Ayah. Maklum Mama Winda adalah isteri termuda, meskipun berstatus janda.
Bagiku
sebenarnya sangat canggung memanggil Winda dengan sebutan Mama, jauh
lebih cocok kalau aku memanggilnya Mbak Winda, karena usianya memang
hanya lebih tua 6 tahun dariku. Wajahnya manis selayaknya orang Jogja,
dan yang membuatku betah bermalam di rumahnya adalah “toge pasar” yang
menjadi keunggulannya.
Suatu saat, ketika aku masih kuliah. Seperti
biasa, pada akhir pekan di minggu terakhir, aku membawa sepeda motorku
dari kost menuju rumah Ayah dan Mama Winda. Rupanya saat itu Ayah sedang
“dinas” ke Jakarta, mengunjungi Mama Nurlela, sehingga hanya ada Mama
Winda dan anaknya dari suami pertamanya yang berusia 5 tahun bernama
Yoga. Seperti biasa pula, aku membawakan cokelat buat adik tiriku itu.
Saat
datang, aku disambut oleh Yoga, sementara ibunya ternyata sedang mandi.
Karena belum tahu kalau aku datang, Mama Winda keluar kamar mandi
dengan santainya hanya berbalut handuk yang hanya “aspel” – asal tempel.
Melihat kehadiranku di ruang tengah, sontak Mama Winda kaget dan salah
tingkah.
“Eh... ada Mas Kemal..”, serunya sedikit menjerit dan
melakukan gerakan yang salah sehingga handuknya melorot hingga perut
sehingga payudaranya yang sebesar pepaya tumpah keluar.
“Glek..”, aku
menelan ludah dan menatap nanar pada ibu tiriku yang bertoket brutal
itu. Sayang sekali pemandangan indah itu hanya berlangsung sebentar
karena Mama Winda segera berlari ke kamar.
Dadaku berdegup kencang,
birahiku langsung naik ke ubun-ubun. Ingin rasanya aku ikut berlari
mengejar Mama Winda ke kamarnya, menubruknya dan meremas buah dada
pepayanya. Sayang aku belum berani melakukannya.
Aku hanya bisa
“manyun” sambil bermain dengan adik tiriku sampai akhirnya sang ibu tiri
keluar kamar. Tidak tangung-tanggung, dia membungkus tubuh montoknya
yang baru saja kulihat toket brutalnya dengan pakaian muslim, lengkap
dengan jilbabnya. Mama Winda sehari-harinya memang mengenakan jilbab.
Birahiku langsung “watering down”... layu sebelum berkembang.
Sebagai
pelampiasan, pada saat mandi aku menyempatkan diri untuk masturbasi,
kebetulan ada tumpukan pakaian dalam kotor milik Mama Winda di dalam
ember. Awalnya aku mengambil bra warna hitam dengan tulisan ukuran 36BB
yang mulai memudar. ‘Pantas besar seperti pepaya’ pikirku membayangkan
dua buah dada besar milik Mama Winda yang sempat kulihat beberapa waktu
lalu.
Sambil membayangkan buah dada Mama Winda, aku mengambil celana
dalam hitam Mama Winda dan menciuminya. Aroma khas vagina masih
tertinggal di sana, mengantarkan masturbasiku dengan sabun mandi sampai
akhirnya menyemprotkan sperma di dinding kamar mandi.
Sesudah mandi
aku menonton TV bersama Mama Winda dan adik tiriku. Kami mengobrol akrab
sampai sekitar jam 8 adik tiriku minta ditemani mamanya untuk tidur.
Sebelum menemani anaknya tidur, Mama Winda masuk kamarnya untuk bertukar
pakaian tidur baru kemudian masuk kamar anaknya.
Setelah anaknya
tidur, Mama Winda keluar kamar dengan kostum tidurnya yang sama sekali
berbeda dengan kostumnya tadi sore. Pakaian muslimnya yang tertutup
berganti dengan gaun tidur warna putih yang meskipun tidak tipis tapi
memperlihatkan bayangan lekuk tubuh montoknya, termasuk warna bra dan
celana dalamnya yang berwarna ungu. Kontan birahiku langsung naik
kembali.
“Wow... Mbak Winda cantik sekali”, pujiku tulus terhadap ibu
tiriku yang memang tampak cantik dengan gaun tidur putih itu. Rambut
panjangnya tergerai indah menghiasi wajah manisnya.
“Huss... kalau Bapakmu tahu, bisa dimarahin kamu, panggil Mbak segala”, serunya agak ketus namun tetap ramah.
“Bapak lagi ngelonin Mama Lela, mana mungkin dia marah”, pancingku.
“Ih, apa sih hebatnya si Lela itu? Aku belum pernah ketemu”, sergah Mama Winda. Nadanya mulai agak tinggi.
“Hmm...
menurut saya sih... dan Bapak pernah cerita bahwa dia suka buah dada
Mama Lela yang besar”, sadar pancinganku mengena, aku segera
melanjutkannya. Padahal tentu saja aku berbohong kalau bapak pernah
cerita, tapi kalau ukuran buah dada, mana kutahu dengan pasti. Yang
kutahu buah dada Mama Lela memang besar.
“Oh ya?... “, benar saja,
emosi Mama Winda semakin meninggi. Dadanya ditarik seakan ingin
menunjukkan padaku bahwa buah dadanya juga besar.
“Bapak kalau di
rumah Mama Lela suka lupa diri, pernah mereka ML di dapur, padahal waktu
itu ada saya”, cerita bohongku berlanjut,”mereka asyik doggy style dan
tidak sadar kalau saya melihat mereka”.
“Gila bener... pasti si Lela itu gatelan dan tidak tahu malu ya?”, sergah Mama Winda dengan emosi.
“Apanya yang gatelan Mbak?”, tanyaku.
“Ya
memeknya.... “, karena emosi, Mama Winda sudah tidak peduli omongan
jorok yang keluar dari mulutnya,”pasti sudah kendor tuh memeknya si
Lela!”
“Kalau punya Mbak pasti masih rapet ya?”, tantangku.
“Pasti
dong... saya kan baru punya anak satu”, kilahnya,”...dan saya kan
sering senam kegel, Bapakmu gak akan kuat nahan sampai 5 menit, pasti
KO”.
“Ya lawannya udah tua..., pasti Mbak menang KO terus”, aku terus
menyerang sambil menghampiri Mama Winda sehingga kami duduk berdekatan.
“Maksudmu apa Kemal?”, Mama Winda mulai mengendus hasratku. Matanya membalas tatapan birahiku pada dirinya.
“Sekali-kali Mbak harus uji coba dengan anak muda doong”, jawabku enteng sambil tersenyum.
“Welehh... makin berani kamu ya?...”, tangannya menepis tanganku yang mulai mencoba menjamah lengannya.
“Enggak berani ya Mbak?”, tantangku semakin berani,”melawan anak muda?”.
“Gendeng kamu... aku ini kan ibu tirimu”, katanya berdalih.
“Ibu tiri yang cantik dan seksi”, puji dan rayuku.
“Gombal kamu”, serunya dengan wajah agak merah pertanda rayuanku mengena.
“Mbak
Winda...”, aku terus berusaha,”coba bayangkan Bapak sedang ML sama Mama
Lela sekarang dan sementara Mbak Winda ‘nganggur’ di sini”.
“Terus?...”, pancingnya.
“Ya... saya bisa memberikan sentuhan dan kepuasan yang lebih buat Mbak daripada yang diberikan Bapak...”, kataku persuatif.
“Kamu
sudah gila Kemal”, ibu tiriku masih nyerocos, namun tangannya kini
tidak menolak ketika kupegang dan kuarahkan ke penisku yang sudah
mengeras.
“Mungkin saya memang gila Mbak, tapi Bapak lebih gila,
mungkin dia sekarang sedang nyedot susunya Mama Lela yang besar... atau
mungkin sedang jilat-jilat memeknya”, aku terus membakar Mama Winda.
“Huh... Bapakmu enggak pernah jilat memek, ngarang kamu..”, sergahnya.
“Oh
ya?... tapi dia pernah cerita kalau di hobby sekali menjilat memek Mama
Lela..”, aku terus berbohong sementara tanganku sudah aktif menarik rok
Mama Winda ke atas sehingga kini pahanya yang montok dan putih sudah
terlihat dan kubelai-belai.
“Kamu bohong...”, katanya pelan, suaranya sudah bercampur birahi.
“Ih... bener Mbak, Bapak suka cerita yang begitu pada saya sejak saya kuliah di kedokteran”, ceritaku.
“Awalnya
Bapak ingin tahu apakah klitoris Mama Lela itu normal atau tidak,
karena menurut Bapak, klitoris Mama Lela sebesar jari telunjuk”.
Tanganku semakin jauh menjamah, sampai di selangkangannya yang ditutup
celana dalam ungu. Mama Winda sedikitpun tidak memberi penolakan, bahkan
matanya semakin sayu.
“Stop Kemal, jangan ceritakan lagi si Lela sialan itu...,” pintanya,”Kalau tentang aku, Bapakmu cerita apa?”
“Eh...
maaf ya Mbak... kata Bapak, memek Mbak agak becek...”, kataku
bohong,”Pernah Bapak bertanya pada saya apakah perlu dibawa ke dokter”.
“Sialan
Bapakmu itu... waktu itu kan cuma keputihan biasa”, sergah Mama Winda.
Bagian bahwa gaun tidur putihnya sudah tersingkap semua, memperlihatkan
pahanya yang montok dan putih serta gundukan selangkangannya yang
tertutup kain segitiga ungu. Sungguh pemandangan indah, terlebih
beberapa helai pubis (jembut) yang menyeruak di pinggiran celana
dalamnya.
“Hmm... coba saya cek ya Mbak...”, kataku sembari menurunkan wajah ke selangkangannya.
“Crup...”,
kukecup mesra celana dalam ungu tepat di tengah gundukannya yang sudah
tampak sedikit basah. Tersibak aroma khas vagina Mama Winda yang semakin
membakar birahiku.
Dengan sedikit tergesa aku menyibak pinggiran
celana dalam ungu itu sehingga terlihatlah bibir surgawi Mama Winda yang
sudah basah... dikelilingi oleh pubis yang tumbuh agak liar.
“slrupp.... slrupp..”, tanpa menunggu lama aku sudah menjulurkan lidahku pada klitoris Mama Winda dan menjilatnya penuh nafsu.
Mama Winda menggelinjang dan meremas kepalaku,”Kamu...kamu bandel banget Kemal....okh... okh...”.
“Kenapa saya bandel Mbak... slruppp...”, tanyaku disela serangan oralku pada vagina Mama Winda.
“Okh...kamu...
kamu menjilat memek ibu tirimu...Okhhh....edannn... kamu apakan itilku
Kemal...??”, teriaknya ketika aku mengulum dan menyedot klitorisnya.
Kini
100% aku sudah menguasai Mama Winda. Wanita itu sudah pasrah padaku,
bahkan dia membantuku melucuti celana dalamnya sehingga aku semakin
mudah melakukan oral seks.
Sambil terus menjilat, aku memasukkan jari telunjukku ke liang vaginanya yang sudah terbuka dan basah.
“Oooohh.... edannn.... enak Kemal...”, jeritnya sambil menggelinjang, menikmati jariku yang mulai keluar masuk liang vaginanya.
Bahasa
tubuh Mama Winda semakin menggila tatkala jari tengahku ikut ‘nimbrung’
masuk liang kenikmatannya bersama jari telunjuk. Maka tak sampai 5
menit, aku berhasil membuat ibu tiriku berteriak melepas orgasmenya.
“Okh.....
edannn....aku puassss....okh.....”, tubuh Mama Winda melejat-lejat
seirama pijatan dinding vaginanya pada dua jariku yang berada di
dalamnya.
Setelah selesai menggapai orgasmenya, bahasa tubuh Mama
Winda memberi sinyal padaku untuk dipeluk. Akupun memeluk dan mencium
bibirnya dengan mesra. Dia membalas ciumanku dengan penuh semangat.
“Enak kan Mbak?”, tanyaku basa-basi.
“He’eh...”, dia mengangguk dan terus menciumiku.
“Tapi saya belum selesai periksanya lho Mbak...,” kataku manja.
“He3x... kamu benar-benar calon dokter yang bandel Kemal...,” dia terkekeh senang,”Kamu mau periksa apa lagi heh?”
“Periksa yang ini Mbak...”, kataku seraya meremas buah pepaya yang masih terbungkus gaun tidur dan bra.
“Ohh... iya tuh... sering nyeri Dok...”, candanya,”minta diremas-remas... he3x...”.
Sejenak
kemudian Mama Winda sudah melucuti gaun tidurnya dan mempersilahkanku
untuk membuka bra ungunya yang tampak tak sanggup menahan besar buah
dadanya.
“Hmmm... slrupp... “, dengan penuh nafsu aku segera
menciumi buah dada besar itu dan mengulum putingnya yang juga besar.
Warna putingnya sudah gelap menghiasi buah dadanya yang masih lumayan
kencang. ‘Pantas Bapak ketagihan’ pikirku sambil terus menikmati buah
dada impianku itu.
“Kemal....”, panggil Mama Winda mesra,”Mana kontolmu?... ayo kasih lihat ibu tirimu ini, hi3x...”.
Aku
segera menurut dan menanggalkan celana panjang dan sekaligus celana
dalamku, memperlihatkan batang penisku yang dari tadi sudah mengeras dan
mengacung ke atas.
“woww... lebih besar punya kamu Mal... daripada
punya Bapakmu”, puji Mama Winda seraya menggenggam penisku. Sejenak
kemudian ibu tiriku sudah mengemut penisku penuh nafsu.
“Weleh.... udah kedut-kedut kontolnya... minta memek ya?”candanya,” Sini... masuk memek Mama...”
Mama
Winda mengangkang, membuka pahanya lebar-lebar di sofa tengah, membuka
jalan penisku memasuki liang surgawinya yang sudah becek. Setelah
penisku melakukan penetrasi, kedua kakinya dirapatkan dan diangkat
sehingga liang vaginanya terasa sempit, membuat penisku semakin ‘betah’
keluar masuk.
Seperti promosinya di awal, Mama Winda mengerahkan
kemampuannya melakukan kontraksi dinding vagina (kegel) sehingga penisku
terasa terjepit dan terhisap, namun seperti sudah kuduga, aku bukan
tipe yang mudah dikalahkan. Aku bahkan balik menyerang dengan mengusap
dan memijit klitorisnya sambil terus memompa vaginanya.
“Okh... kamu
sudah ahli ya Kemal?.... kamu sering ngentot ya...?”, Mama Winda mulai
mengelinjang-gelinjang lagi, menikmati permainan penis dan pijatan pada
klitorisnya. Semakin lama aku rasakan dinding-dinding vaginanya semakin
mengeras pertanda dia sudah dengan dekat orgasme keduanya. Aku semakin
mempercepat kocokan penisku pada vaginanya, berupaya meraih orgasme
bersamaan.
“Mbak... saya semprot di dalam ya?..” tanyaku basa-basi.
“Semprot
Kemal...okh... semprot aja yang banyak...okh....” Mama Winda terus
mendesah-desah, wajahnya semakin mesum. Akhirnya dia kembali berteriak.
“Okhhh.....
ayo.... okh.... semprot Kemal... semprot memek Mama....”, jeritan
jorok, wajah mesumnya dan sedotan vaginanya membuatku juga tidak tahan
lagi.
“Yesss.....yess....”, akupun menjerit kecil menikmati orgasmeku
dengan semprotan mani yang menurutku cukup banyak ke dalam rahim Mama
Winda, ibu tiriku.
Orgasme yang spektakuler itu berlangsung hampir menit dan disudahi lagi dengan pelukan dan ciuman mesra.
“Terima kasih Kemal...,” katanya mesra,”Enak banget, hi3x....”
“Sama-sama Mbak, nanti saya kasih obat anti hamil...”, jawabku sambil melihat lelehan maniku di vaginanya.
“Hi3x...
enggak apa lagi... tapi peju kami memang banyak banget nihhh...hi3x...”
Mama Winda terkekeh girang melihat lelehan mani putihku di vaginanya.
“Kapan-kapan pakai kondom ya.... mahasiswa kedokteran kok enggak siap kondom, hi3x....” candanya.
“Yaa... saya kan alim Mbak... he3x...”
“Ha3x.... bohong banget, kamu jago gitu... pasti udah sering ngentot ya?...”, tanyanya penuh keingintahuan.
“Pernah
sih sekali dua kali... waktu main di Jakarta...” kataku jujur sambil
mengingat PSK di panti pijat yang pernah kudatangi di Jakarta.
“Jakarta?...
heeee.... jangan2x... kamu.... main sama Lela sialan itu, iya???” sorot
matanya berubah, agak emosi,”pantes kamu cerita buah dada Lela besar,
klitorisnya juga besar... jangan2x kamu sudah main sama Lela juga
ya?....”
“Enggak Mbak.... bukan sama Mama Lela... sumpah!” seruku berkilah.
“Awas kamu kalau main sama Lela...” serunya dengan nada cemburu. Wajahnya yang mesum tampak manja.
“Saya janji tidak akan main sama Mama Lela kalau Mbak rutin kasih jatah saya...he3x....”, pintaku manja.
Mama Winda memeluk dan menciumku mesra,”Baik... kalau Bapak enggak ada, aku SMS aku ya....”
“Siip... saya bawa kondom deh...he3x....” kataku girang.
Kami
bermesraan sampai akhirnya “on” kembali dan melanjutkan satu ronde
pertempuran sebelum pergi tidur. Itu adalah pengalaman pertamaku dengan
ibu tiriku, dan tentu saja bukan yang terakhir. Setiap ada waktu, Mama
Winda dengan semangat mengirim SMS dan aku segera datang memenuhi hasrat
binal ibu tiriku. Bahkan saking ‘ngebetnya’, pernah Mama Winda mengajak
aku bertemu di luar rumah karena ada Bapak di rumah. Bagaimana
kisahnya? Nantikan edisi berikutnya. Petualanganku juga tak berhenti
pada Mama Winda, karena aku masih punya satu ibu tiri di Jakarta, Mama
Lela, yang juga tak kalah montok dengan Mama Winda.
kakek ngentot cucu sendiri
Kira-kira satu tahun yang lalu petualanganku dengan perempuan terjadi
lagi, tapi kali ini orangnya adalah yang ada hubungan darah denganku
sendiri yaitu Dhea dan Marsha, keduanya merupakan cucuku sendiri. Satu
tahun yang lalu, anakku yang kedua mengontakku di Belanda yang
memberitahukan bahwa kakaknya yaitu anakku yang pertama dan istrinya
mengalami kecelakaanyang akhirnya harus meninggalkan dunia ini. Aku pun
langsung terbang ke Jakarta. Setiba di Jakarta aku lansung menuju ke
rumah anakku, di sana aku menemukan anakku dan istrinya telah terbujur
kaku dan kulihat Dhea dan adiknya Marsha sedang menagis meraung-raung di
depan keduajenazah itu. Sewaktu kutinggal ke Belanda, Dhea dan Marsha
masih kecil. Setelah peguburan jenazah kedua anakku, atas anjuran anakku
yang kedua, aku diminta untuk tinggal di Jakarta saja dan tidak usah
kembali ke Belanda, aku harus menjaga kedua cucuku, aku pun setuju.
Sejak saat itu, aku pun tinggal di Indonesia.
Satu minggu aku sudah tinggal di rumah almarhum anakku, dan kutahu Dhea usianya 15 tahun (kelas 3 SMP) sedangkan adiknya Marsha usianya 13 tahun (kelas 1 SMP) ini kutahu karena tugasku sekarang menjaga dan mengantarkan cucuku sekolah. Dhea sudah tumbuh menjadi anak gadis tetapi kelakuannya agak nakal, setiap pulang dari sekolah bukannya belajar malah main ke temannya sampai jam 09.00 malam baru kembali, di saat aku sudah tertidur.
Suatu hari ketika Dhea pulang aku masih terbangun, Dhea langsung masuk kamar setelah mandi dan berdiam di dalam kamarnya yang membuat aku penasaran melihat sikap Dhea, sampai di depan kamarnya sebelum kuketuk aku coba mengintip dari lubang pintu dan aku terkaget-kaget melihat apa yang dilakukan Dhea di kamarnya. TV di kamar itu menyala dimana gambarnya film porno, sedangkan Dea sedang mengangkat roknya dan jarinya ditusukkan ke dalam lubang kemaluannya sendiri. Aku mengintipnya hampir 15 menit lamanya yang membuat aku tidak sadar bahwa batangkemaluanku mulai mengeras dan celanaku basah. Setelah itu kutinggalkan Dhea yang masih onani, sedang aku pun ke kamar untuk tidur, tapi dalam tidurku terbayang kemaluan Dhea.
Paginya aku bangun terlambat karena mimpiku. Dhea dan Marsha sudah berangkat sekolah naik angkutan kota. Sore hari aku kembali setelah mengurus surat-surat kuburan anakku. Ketika aku masuk ke ruang keluarga, aku sempat terkejut melihat Dhea sedang menonton TV, pikirku tumben sore-sore Dhea ada di rumah dan aku makin terkejut ketika aku menghampiri Dhea, Dhea sedang melakukan onani sementara TV yang ia tonton adalah film porno yang tadi malam sudah dilihatnya. Dhea pun tidak tahu kalau aku sedang memperhatikannya dimana Dhea sedang asyik-asyiknya onani.
“Dhea… kamu lagi… ngapain?”
“Uh… kakek.. ngagetin aja… nih…”
Dhea yang kaget langsung menutupinya dengan rok dan memindahkan channel TV.
“Kamu kaget.. yach, kamu.. belajar begini sama siapa.. kamu ini bandel yach..”
“Belajar dari film dan bukunya temen, tapi Dhea.. nggak bandel loh… Kek…”
“Sini Kakek.. juga mau nonton,” kataku sambil duduk di sebelahnya.”Kakek mau nonton juga.. Kakek nggak marah sama Dea khan?” katanya agak manja sambil melendot di bahuku.
“Nggak… ayo pindahin channel-nya!”
Gambar TV pun langsung berubah menjadi film porno lagi. Tanpa bergeming, Dhea asyik menatap film panas itu sementara nafasku sudah berubah menjadi nafsu buas dan batang kemaluanku mulai mengeras berusaha keluar dari balik celanaku. “Dhe… mau Kakek pangku.. nggak?” Tanpa menoleh ke arahku Dhea bergeser untuk dipangku. Dhea yang sudah meloloskan celana dalamnya merasa terganggu ketika kemaluannya yang beralaskan roknya tersentuh batang kemaluanku yang masih tertutup celana.
“Ah.. Kakek.. ada yang mengganjal lubang kemaluan Dhea nih dari bawah.”
“Supaya nggak ganjal, rok kamu lepasin aja, soalnya rok kamu yang bikin ganjal.”
Tiba-tiba Dhea menungging dipangkuan melepaskan roknya, badannya menutupi pemandanganku ke arah TV tapi yang kulihat kini terpampang di depan mukaku pantat Dhea yang terbungkus kulit putih bersih dan di bawahnya tersembul bulu-bulu tipis yang masih halus menutupi liang kemaluannya yang mengeluarkan aroma bau harum melati.
“Dhea.. biar aja posisi kamu begini yach!”
“Ah.. Kakek, badan Dhea khan nutupin Kakek… nanti Kakek nggak lihat filmnya.”
“Ah.. nggak apa-apa, Kakek lebih suka melihat ini.”
Pantatnya yang montok sudah kukenyot dan kugigit dengan mulut dan gigiku. Tanganku yang kiri memegangi tubuhnya supaya tetap berdiri sedangkan jari tengah tangan kananku kuusap lembut pada liang kemaluannya yang membuat Dhea menegangkan tubuhnya.
“Ah… Ah… ssh.. sshh…” Pelan-pelam jari tengahku kutusukkan lebih ke dalam lagi di lubamg kemaluannya yang masih sangat rapat. “Aw.. aw… aw.. sakit.. Kek…” jerit kecil Dhea. Setelah lima menit jariku bermain di kemaluannya dan sudah agak basah, sementara lubang kemaluannya sudah berubah dari putih menjadi agak merah. Kumulai memainkan lidah ke lubang kemaluannya. Saat lubang kemaluan itu tersentuh lidahku, aku agak kaget karena lubang kemaluan itu selain mengeluarkan aroma melati rasanya pun agak manis-manis legit, lain dari lubang kemaluan perempuan lain yang pernah kujilat, sehingga aku berlama-lama karena aku menikmatinya.
“Argh… argh… lidah Kakek enak deh.. rasanya.. agh menyentuh memek Dhea… Dhea jadi suka banget nih.”
“Iya… Dhea, Kakek juga suka sekali rasanya, memekmu manis banget rasanya.”
Dengan rakusnya kujilati lubang kemaluan Dhea yang manis, terlebih-lebih ketika biji klitorisnya tersentuh lidahku karena rupanya biang manisnya dari biji klitorisnya. Dhea pun jadi belingsatan dan makin menceracau tidak karuan. “Argh.. sshh.. agh… aghh… tidddaak… Kek… uenak… buanget… Kek.. argh… agh.. sshhh…” Hampir 30 menit lamanya biji klitoris Dhea jadi bulan-bulanan lidahku dan limbunglah badan Dhea yang disertai cairan putih kental dan bersih seperti lendir, mengucur deras dari dalam lubang kemaluannya yang langsung membasahi lubang kemaluannya dan lidahku. Tapi karena lendir itu lebih manis lagi rasanya dari biji klitorisnya langsung kutelan habis tanpa tersisa dan membasahi mukaku. “Arggghh.. aaawww… sshhh.. tolong… Kek… eennaak… baangeeet… deh…” Jatuhlah tubuh Dhea setelah menungging selama 30 menit meniban tubuhku.
Setelah tubuhku tertiban kuangkat Dhea dan kududukkan di Sofa, sementara badannya doyong ke kiri, aku melepaskan semua pakaianku hingga bugil dimana batang kemaluanku sudah tegang dan mengeras dari tadi. Kemudian kedua kaki Dhea aku lebarkan sehingga lubang kemaluan itukembali terbuka lebar dengan sedikit membungkuk kutempelkan batang kemaluanku persis di liang kemaluannya. Karena lubang kemaluannya masih sempit, kumasukkan tiga buah jari ke lubang kemaluannya, supaya lubang kemaluan itu jadi lebar. Ketika jari itu kuputar-putar, Dhea yang memejamkan mata hanya bisa menahan rasa sakit, sesekali ia meringis. Setelah 5 menit lubang kemaluannya kuobok-obok dan terlihat agak lebar, kutempelkan batang kemaluanku tepat di lubang kemaluannya, lalu kuberikan hentakan. Tapi karena masih agak sempit maka hanya kepala kemaluanku saja yang bisa masuk. Dhea pun menjerit.
“Awh… sakit.. Kek… sakit.. banget…”
“Sabar… sayang… nanti juga enak.. deh…”
Kuhentak lagi batang kemaluanku itu supaya masuk ke lubang kemaluan Dhea, dan baru yang ke-15 kalinya batangan kemaluanku bisa masuk walau hanya setengah ke lubang kemaluan Dhea. Dhea pun 15 kali menjeritnya. “Ampun… Kek… sakit.. banget… ampun!” Karena sudah setengah batang kemaluanku masuk, dan mulai aku gerakan keluar-masuk dengan perlahan, rasa sakit yang dirasakan Dhea berubah menjadi kenikmatan.
“Kek.. Kek.. gh… gh… enak.. Kek… terus.. Kek.. terus.. Kek… batang.. Kakek.. rasanya… sampai.. perut Dhea.. terus… Kek!”
“Tuh.. khan… benar.. kata Kakek… nggak.. sakit lagi sekarang.. jadi enak.. kan?”
Dhea hanya mengangguk, kaus yang digunakannya kulepaskan berikut BH merah mudanya, terlihatlah dengan jelas payudara Dhea yang baru tumbuh tapi sudah agak membesar dimana diselimuti kulit putih yang mulus dan di tengahnya dihiasi puting coklat yang juga baru tumbuh membuatku menahan ludah. Lalu dengan rakusnya mulutku langsung mencaplok payudara itu dan kukulum serta kugigit yang membuat Dhea makin belingsatan.
Setelah satu jam, lubang kemaluan Dhea kuhujam dengan batang kemaluanku secara ganas, terbongkarlah pertahanan Dhea yang sangat banyak mengeluarkan cairan lendir dari dalam lubang kemaluannya membasahi batanganku yang masih terbenam di dalam lubang kemaluannya disertai darah segar yang otomatis keperawanan cucuku Dhea telah kurusak sendiri. Dhea pun menggeleparlalu ambruk di atas Sofa. “Agh… agh.. agh.. argh… argh… sshh… ssshh… argh… gh.. gh… Dhea… keluar.. nih.. Kek.. aw… aw…”
Lima belas menit kemudian aku pun sampai pada puncak kenikmatan, dimana tepat sebelum keluar aku sempat menarik batang kemaluanku dari lubang kemaluan Dhea dan menyemburkan cairan kental hangat di atas perut Dhea dan aku pun langsung ambruk meniban tubuh Dhea. “Aw.. agh.. agh.. Dhea.. memekmu.. memang.. luar biasa, kontol Kakek.. sampai dipelintir di dalam memekmu…agh… kamu.. me.. memeng… hebat…”
Setengah jam kemudian, dengan terkaget aku terbangun oleh elusan tangan lembut memegangi kontolku.
“Kakek… habis… ngapain.. Kakak Dhea… kok… Kakak Dhea dan Kakek telanjang… kayak habis.. mandi.. Marsha juga.. mau dong telanjang.. kayak… Kakek dan.. Kakak Dhea.”
“Hah.. Marsha jangan… telanjang!”
Tapi perkataanku kalah cepat dengan tindakannya Marsha yang langsung melepaskan semua pakaiannya hingga Marsha pun bugil. Aku terkejut melihat Marsha bugil dimana tubuh anak umur 11 tahun ini kelihatan sempurna, lubang kemaluan Marsha yang masih gundul belum tumbuh bulu-bulu halus tetapi payudaranya sudah mulai berkembang malah lebih montok dari payudara Dhea. Kulit tubuh Marsha pun lebih putih dan mengkilat dibanding kulit tubuh Dhea, sehingga membuat nafsu seks-ku kembali meningkat.
“Kek… Marsha kan tadi ngintip ketika perut Kakak Dhea dimasukin sama punya kakek.. Marsha juga mau dong.. kata mama dan papa, kalau Kakak Dhea dapat sesuatu pasti Marsha juga dapat.”
“Oh… mama dan papa bilang begitu yach, kamu memang mau perut kamu dimasukin punya Kakek.”
“Iya.. Kek.. Marsha mau sekali.”
Tanpa banyak basa-basi kusuruh Marsha terlentang di atas karpet. Dengan agak riang Marsha langsung terlentang, aku duduk di sampingnya kedua kakinya aku lebarkan sehingga lubang kemaluannya yang gundul terlihat jelas. Kusuruh Marsha menutup mata. “Marsha sekarang tutup matanya yach, jangan dibuka kalau Kakek belum suruh, nanti kalau sakit Marsha hanyaboleh bilang sakit.” Marsha pun menuruti permintaanku. Lubang kemaluannya kuusap dengan jari tengahku dengan lembut dan sesekali jariku kumasukkan ke lubang kemaluannya. Tangan kiriku dengan buasnya telah meremas payudaranya dan memelintir puting yang berwarna kemerahan. Marsha mulai menggelinjang. Dia tetap memejamkan matanya, sedang mulutnya mulai nyerocos. “Ah… ah… ah.. sshh.. ssh…” Kedua kakinya disepakkan ketika jari tengahku menyentuh klitorisnya. Lidahku mulai menjilati lubang kemaluannya karena masih gundul, dengan leluasa lidahku mengusapliang kemaluannya sampai lidahku menyentuh klitorisnya. Dikarenakan usianya lebih muda dari Dhea maka lubang kemaluan dan klitoris Marsha rasanya belum terlalu manis dan 10 menit kemudian keluarlah cairan kental putih yang rasanya masih hambar menetes dengan derasnya dari dalam lubang kemaluannya membasahi lidahku yang sebagian tidak kutelan karena rasanya yang masih hambar sehingga membasahi paha putihnya.
“Ah… ah… ngeh.. ngeh… Marsha.. basah nih Kek…” Kuambil bantal Sofa dan kuganjal di bawah pantat Marsha sehingga lubang kemaluan itu agak terangkat, lalu kutindih Marshadan kutempelkan batang kemaluanku pada lubang kemaluannya yang masih berlendir. Kuhentak batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Marsha yang masih lebih rapat dari lubang kemaluan Dhea. Kuhentak berkali-kali kemaluanku sampai 25 kali baru bisa masuk kepala kemaluanku ke lubang kemaluan Marsha. 25 kali juga Marsha menjerit.
“Aw.. aw.. sakit.. Kek… sakit.. sekali..”
“Katanya kamu mau perutmu aku masukin punya Kakek seperti lubang kemaluan Kakak Dhea.”
“Iya Kek… Marsha mau… Marsha tahan aja deh sakitnya.”
Kepala kemaluanku yang sudah masuk ke lubang kemaluan Marsha kehentak sekali lagi, kali ini masuk hampir 3/4-nya batang kemaluanku ke lubang kemaluan Marsha, ini karena lubang kemaluan Marsha masih licin sisa lendir yang tadi dikeluarkannya. “Hegh… hegh… hegh.. iya Kek sekarang Marsha nggak sakit lagi… malah enak.. rasanya di perut Marsha ada yang dorong-dorong… Hegh.. Hegh…” komentar Marsha ketika menahan hentakan batang kemaluanku di lubang kemaluannya. Setelah 30 menit lubang kemaluannya kuhujam dengan hentakan batang kemaluanku, meledaklah cairan kental dan tetesan darah dari lubang kemaluan Marsha keluar dengan derasnya yang membasahi kemaluanku dan pahanya. Marsha pun langsung pingsan. “Arrgh.. arrghh.. ssh… Kek… Marsha.. nggak kuat… Kek… Marsha.. mau pingsan… nih… nggak.. ku.. kuaatt…”
Pingsannya Marsha tidak membuatku mengendorkan hentakan kemaluanku di lubang kemaluannya yang sudah licin, malah membuatku makin keras menghentaknya, yang membuatku sampai puncak yang kedua kalinya setelah yang pertama kali di lubang kemaluannya Dhea, tapi kali ini aku tidak sempat menarik batang kemaluanku dari dalam lubang kemaluan Marsha sehingga cairan kental hangat itu kubuang di dalam perut Marsha dan setelah itu baru kulepaskan batang kemaluanku dari lubang kemaluan Marsha yang masih mengeluarkan lendir. “Ah.. ah… ser… ser… ser… jrot.. jrot.. agh… ag.. ssh… argh…” Tubuhku pun langsung ambruk di tengah Marsha yang pingsan di atas karpet dan Dhea yang tertidur di sofa. Satu jam kemudian aku terbangun di saat batang kemaluanku berasa dijilat dan ketika aku melirik aku melihat Dhea dan Marsha sedang bergantian mengulum batang kemaluanku dan menjilati sisa cairan lendir tadi, kuusap kedua kepala cucuku itu yang lalu kusuruh keduanya mandi.
“Dhea.. sudah.. sayang.. sana ajak adikmu.. bersih-bersih dan mandi setelah itu kita ke Mall, beli McDonal.. ayo sayang!”
“Kek.. Dhea puas deh.. lain.. kali lagi yach Kek!”
“Asyik beli McDonal.. tapi lain kali lagi yach… Kek, perut Marsha jadi hangat.. deh.. enak..”
“Iya.. sayang.. pasti lagi.. ayo sekarang Kakek yang mandiin.”
Setelah itu kami pun mandi bertiga, sejak saat itu kedua cucuku selalu tiap malam minta coba lagi keganasan batang kemaluanku. Aku pun tersenyum bangga bahwa aku memang penakluk perempuan, walau perempuan yang aku taklukan adalah kedua cucuku yang sekarang tinggal bersamaku.
Satu minggu aku sudah tinggal di rumah almarhum anakku, dan kutahu Dhea usianya 15 tahun (kelas 3 SMP) sedangkan adiknya Marsha usianya 13 tahun (kelas 1 SMP) ini kutahu karena tugasku sekarang menjaga dan mengantarkan cucuku sekolah. Dhea sudah tumbuh menjadi anak gadis tetapi kelakuannya agak nakal, setiap pulang dari sekolah bukannya belajar malah main ke temannya sampai jam 09.00 malam baru kembali, di saat aku sudah tertidur.
Suatu hari ketika Dhea pulang aku masih terbangun, Dhea langsung masuk kamar setelah mandi dan berdiam di dalam kamarnya yang membuat aku penasaran melihat sikap Dhea, sampai di depan kamarnya sebelum kuketuk aku coba mengintip dari lubang pintu dan aku terkaget-kaget melihat apa yang dilakukan Dhea di kamarnya. TV di kamar itu menyala dimana gambarnya film porno, sedangkan Dea sedang mengangkat roknya dan jarinya ditusukkan ke dalam lubang kemaluannya sendiri. Aku mengintipnya hampir 15 menit lamanya yang membuat aku tidak sadar bahwa batangkemaluanku mulai mengeras dan celanaku basah. Setelah itu kutinggalkan Dhea yang masih onani, sedang aku pun ke kamar untuk tidur, tapi dalam tidurku terbayang kemaluan Dhea.
Paginya aku bangun terlambat karena mimpiku. Dhea dan Marsha sudah berangkat sekolah naik angkutan kota. Sore hari aku kembali setelah mengurus surat-surat kuburan anakku. Ketika aku masuk ke ruang keluarga, aku sempat terkejut melihat Dhea sedang menonton TV, pikirku tumben sore-sore Dhea ada di rumah dan aku makin terkejut ketika aku menghampiri Dhea, Dhea sedang melakukan onani sementara TV yang ia tonton adalah film porno yang tadi malam sudah dilihatnya. Dhea pun tidak tahu kalau aku sedang memperhatikannya dimana Dhea sedang asyik-asyiknya onani.
“Dhea… kamu lagi… ngapain?”
“Uh… kakek.. ngagetin aja… nih…”
Dhea yang kaget langsung menutupinya dengan rok dan memindahkan channel TV.
“Kamu kaget.. yach, kamu.. belajar begini sama siapa.. kamu ini bandel yach..”
“Belajar dari film dan bukunya temen, tapi Dhea.. nggak bandel loh… Kek…”
“Sini Kakek.. juga mau nonton,” kataku sambil duduk di sebelahnya.”Kakek mau nonton juga.. Kakek nggak marah sama Dea khan?” katanya agak manja sambil melendot di bahuku.
“Nggak… ayo pindahin channel-nya!”
Gambar TV pun langsung berubah menjadi film porno lagi. Tanpa bergeming, Dhea asyik menatap film panas itu sementara nafasku sudah berubah menjadi nafsu buas dan batang kemaluanku mulai mengeras berusaha keluar dari balik celanaku. “Dhe… mau Kakek pangku.. nggak?” Tanpa menoleh ke arahku Dhea bergeser untuk dipangku. Dhea yang sudah meloloskan celana dalamnya merasa terganggu ketika kemaluannya yang beralaskan roknya tersentuh batang kemaluanku yang masih tertutup celana.
“Ah.. Kakek.. ada yang mengganjal lubang kemaluan Dhea nih dari bawah.”
“Supaya nggak ganjal, rok kamu lepasin aja, soalnya rok kamu yang bikin ganjal.”
Tiba-tiba Dhea menungging dipangkuan melepaskan roknya, badannya menutupi pemandanganku ke arah TV tapi yang kulihat kini terpampang di depan mukaku pantat Dhea yang terbungkus kulit putih bersih dan di bawahnya tersembul bulu-bulu tipis yang masih halus menutupi liang kemaluannya yang mengeluarkan aroma bau harum melati.
“Dhea.. biar aja posisi kamu begini yach!”
“Ah.. Kakek, badan Dhea khan nutupin Kakek… nanti Kakek nggak lihat filmnya.”
“Ah.. nggak apa-apa, Kakek lebih suka melihat ini.”
Pantatnya yang montok sudah kukenyot dan kugigit dengan mulut dan gigiku. Tanganku yang kiri memegangi tubuhnya supaya tetap berdiri sedangkan jari tengah tangan kananku kuusap lembut pada liang kemaluannya yang membuat Dhea menegangkan tubuhnya.
“Ah… Ah… ssh.. sshh…” Pelan-pelam jari tengahku kutusukkan lebih ke dalam lagi di lubamg kemaluannya yang masih sangat rapat. “Aw.. aw… aw.. sakit.. Kek…” jerit kecil Dhea. Setelah lima menit jariku bermain di kemaluannya dan sudah agak basah, sementara lubang kemaluannya sudah berubah dari putih menjadi agak merah. Kumulai memainkan lidah ke lubang kemaluannya. Saat lubang kemaluan itu tersentuh lidahku, aku agak kaget karena lubang kemaluan itu selain mengeluarkan aroma melati rasanya pun agak manis-manis legit, lain dari lubang kemaluan perempuan lain yang pernah kujilat, sehingga aku berlama-lama karena aku menikmatinya.
“Argh… argh… lidah Kakek enak deh.. rasanya.. agh menyentuh memek Dhea… Dhea jadi suka banget nih.”
“Iya… Dhea, Kakek juga suka sekali rasanya, memekmu manis banget rasanya.”
Dengan rakusnya kujilati lubang kemaluan Dhea yang manis, terlebih-lebih ketika biji klitorisnya tersentuh lidahku karena rupanya biang manisnya dari biji klitorisnya. Dhea pun jadi belingsatan dan makin menceracau tidak karuan. “Argh.. sshh.. agh… aghh… tidddaak… Kek… uenak… buanget… Kek.. argh… agh.. sshhh…” Hampir 30 menit lamanya biji klitoris Dhea jadi bulan-bulanan lidahku dan limbunglah badan Dhea yang disertai cairan putih kental dan bersih seperti lendir, mengucur deras dari dalam lubang kemaluannya yang langsung membasahi lubang kemaluannya dan lidahku. Tapi karena lendir itu lebih manis lagi rasanya dari biji klitorisnya langsung kutelan habis tanpa tersisa dan membasahi mukaku. “Arggghh.. aaawww… sshhh.. tolong… Kek… eennaak… baangeeet… deh…” Jatuhlah tubuh Dhea setelah menungging selama 30 menit meniban tubuhku.
Setelah tubuhku tertiban kuangkat Dhea dan kududukkan di Sofa, sementara badannya doyong ke kiri, aku melepaskan semua pakaianku hingga bugil dimana batang kemaluanku sudah tegang dan mengeras dari tadi. Kemudian kedua kaki Dhea aku lebarkan sehingga lubang kemaluan itukembali terbuka lebar dengan sedikit membungkuk kutempelkan batang kemaluanku persis di liang kemaluannya. Karena lubang kemaluannya masih sempit, kumasukkan tiga buah jari ke lubang kemaluannya, supaya lubang kemaluan itu jadi lebar. Ketika jari itu kuputar-putar, Dhea yang memejamkan mata hanya bisa menahan rasa sakit, sesekali ia meringis. Setelah 5 menit lubang kemaluannya kuobok-obok dan terlihat agak lebar, kutempelkan batang kemaluanku tepat di lubang kemaluannya, lalu kuberikan hentakan. Tapi karena masih agak sempit maka hanya kepala kemaluanku saja yang bisa masuk. Dhea pun menjerit.
“Awh… sakit.. Kek… sakit.. banget…”
“Sabar… sayang… nanti juga enak.. deh…”
Kuhentak lagi batang kemaluanku itu supaya masuk ke lubang kemaluan Dhea, dan baru yang ke-15 kalinya batangan kemaluanku bisa masuk walau hanya setengah ke lubang kemaluan Dhea. Dhea pun 15 kali menjeritnya. “Ampun… Kek… sakit.. banget… ampun!” Karena sudah setengah batang kemaluanku masuk, dan mulai aku gerakan keluar-masuk dengan perlahan, rasa sakit yang dirasakan Dhea berubah menjadi kenikmatan.
“Kek.. Kek.. gh… gh… enak.. Kek… terus.. Kek.. terus.. Kek… batang.. Kakek.. rasanya… sampai.. perut Dhea.. terus… Kek!”
“Tuh.. khan… benar.. kata Kakek… nggak.. sakit lagi sekarang.. jadi enak.. kan?”
Dhea hanya mengangguk, kaus yang digunakannya kulepaskan berikut BH merah mudanya, terlihatlah dengan jelas payudara Dhea yang baru tumbuh tapi sudah agak membesar dimana diselimuti kulit putih yang mulus dan di tengahnya dihiasi puting coklat yang juga baru tumbuh membuatku menahan ludah. Lalu dengan rakusnya mulutku langsung mencaplok payudara itu dan kukulum serta kugigit yang membuat Dhea makin belingsatan.
Setelah satu jam, lubang kemaluan Dhea kuhujam dengan batang kemaluanku secara ganas, terbongkarlah pertahanan Dhea yang sangat banyak mengeluarkan cairan lendir dari dalam lubang kemaluannya membasahi batanganku yang masih terbenam di dalam lubang kemaluannya disertai darah segar yang otomatis keperawanan cucuku Dhea telah kurusak sendiri. Dhea pun menggeleparlalu ambruk di atas Sofa. “Agh… agh.. agh.. argh… argh… sshh… ssshh… argh… gh.. gh… Dhea… keluar.. nih.. Kek.. aw… aw…”
Lima belas menit kemudian aku pun sampai pada puncak kenikmatan, dimana tepat sebelum keluar aku sempat menarik batang kemaluanku dari lubang kemaluan Dhea dan menyemburkan cairan kental hangat di atas perut Dhea dan aku pun langsung ambruk meniban tubuh Dhea. “Aw.. agh.. agh.. Dhea.. memekmu.. memang.. luar biasa, kontol Kakek.. sampai dipelintir di dalam memekmu…agh… kamu.. me.. memeng… hebat…”
Setengah jam kemudian, dengan terkaget aku terbangun oleh elusan tangan lembut memegangi kontolku.
“Kakek… habis… ngapain.. Kakak Dhea… kok… Kakak Dhea dan Kakek telanjang… kayak habis.. mandi.. Marsha juga.. mau dong telanjang.. kayak… Kakek dan.. Kakak Dhea.”
“Hah.. Marsha jangan… telanjang!”
Tapi perkataanku kalah cepat dengan tindakannya Marsha yang langsung melepaskan semua pakaiannya hingga Marsha pun bugil. Aku terkejut melihat Marsha bugil dimana tubuh anak umur 11 tahun ini kelihatan sempurna, lubang kemaluan Marsha yang masih gundul belum tumbuh bulu-bulu halus tetapi payudaranya sudah mulai berkembang malah lebih montok dari payudara Dhea. Kulit tubuh Marsha pun lebih putih dan mengkilat dibanding kulit tubuh Dhea, sehingga membuat nafsu seks-ku kembali meningkat.
“Kek… Marsha kan tadi ngintip ketika perut Kakak Dhea dimasukin sama punya kakek.. Marsha juga mau dong.. kata mama dan papa, kalau Kakak Dhea dapat sesuatu pasti Marsha juga dapat.”
“Oh… mama dan papa bilang begitu yach, kamu memang mau perut kamu dimasukin punya Kakek.”
“Iya.. Kek.. Marsha mau sekali.”
Tanpa banyak basa-basi kusuruh Marsha terlentang di atas karpet. Dengan agak riang Marsha langsung terlentang, aku duduk di sampingnya kedua kakinya aku lebarkan sehingga lubang kemaluannya yang gundul terlihat jelas. Kusuruh Marsha menutup mata. “Marsha sekarang tutup matanya yach, jangan dibuka kalau Kakek belum suruh, nanti kalau sakit Marsha hanyaboleh bilang sakit.” Marsha pun menuruti permintaanku. Lubang kemaluannya kuusap dengan jari tengahku dengan lembut dan sesekali jariku kumasukkan ke lubang kemaluannya. Tangan kiriku dengan buasnya telah meremas payudaranya dan memelintir puting yang berwarna kemerahan. Marsha mulai menggelinjang. Dia tetap memejamkan matanya, sedang mulutnya mulai nyerocos. “Ah… ah… ah.. sshh.. ssh…” Kedua kakinya disepakkan ketika jari tengahku menyentuh klitorisnya. Lidahku mulai menjilati lubang kemaluannya karena masih gundul, dengan leluasa lidahku mengusapliang kemaluannya sampai lidahku menyentuh klitorisnya. Dikarenakan usianya lebih muda dari Dhea maka lubang kemaluan dan klitoris Marsha rasanya belum terlalu manis dan 10 menit kemudian keluarlah cairan kental putih yang rasanya masih hambar menetes dengan derasnya dari dalam lubang kemaluannya membasahi lidahku yang sebagian tidak kutelan karena rasanya yang masih hambar sehingga membasahi paha putihnya.
“Ah… ah… ngeh.. ngeh… Marsha.. basah nih Kek…” Kuambil bantal Sofa dan kuganjal di bawah pantat Marsha sehingga lubang kemaluan itu agak terangkat, lalu kutindih Marshadan kutempelkan batang kemaluanku pada lubang kemaluannya yang masih berlendir. Kuhentak batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Marsha yang masih lebih rapat dari lubang kemaluan Dhea. Kuhentak berkali-kali kemaluanku sampai 25 kali baru bisa masuk kepala kemaluanku ke lubang kemaluan Marsha. 25 kali juga Marsha menjerit.
“Aw.. aw.. sakit.. Kek… sakit.. sekali..”
“Katanya kamu mau perutmu aku masukin punya Kakek seperti lubang kemaluan Kakak Dhea.”
“Iya Kek… Marsha mau… Marsha tahan aja deh sakitnya.”
Kepala kemaluanku yang sudah masuk ke lubang kemaluan Marsha kehentak sekali lagi, kali ini masuk hampir 3/4-nya batang kemaluanku ke lubang kemaluan Marsha, ini karena lubang kemaluan Marsha masih licin sisa lendir yang tadi dikeluarkannya. “Hegh… hegh… hegh.. iya Kek sekarang Marsha nggak sakit lagi… malah enak.. rasanya di perut Marsha ada yang dorong-dorong… Hegh.. Hegh…” komentar Marsha ketika menahan hentakan batang kemaluanku di lubang kemaluannya. Setelah 30 menit lubang kemaluannya kuhujam dengan hentakan batang kemaluanku, meledaklah cairan kental dan tetesan darah dari lubang kemaluan Marsha keluar dengan derasnya yang membasahi kemaluanku dan pahanya. Marsha pun langsung pingsan. “Arrgh.. arrghh.. ssh… Kek… Marsha.. nggak kuat… Kek… Marsha.. mau pingsan… nih… nggak.. ku.. kuaatt…”
Pingsannya Marsha tidak membuatku mengendorkan hentakan kemaluanku di lubang kemaluannya yang sudah licin, malah membuatku makin keras menghentaknya, yang membuatku sampai puncak yang kedua kalinya setelah yang pertama kali di lubang kemaluannya Dhea, tapi kali ini aku tidak sempat menarik batang kemaluanku dari dalam lubang kemaluan Marsha sehingga cairan kental hangat itu kubuang di dalam perut Marsha dan setelah itu baru kulepaskan batang kemaluanku dari lubang kemaluan Marsha yang masih mengeluarkan lendir. “Ah.. ah… ser… ser… ser… jrot.. jrot.. agh… ag.. ssh… argh…” Tubuhku pun langsung ambruk di tengah Marsha yang pingsan di atas karpet dan Dhea yang tertidur di sofa. Satu jam kemudian aku terbangun di saat batang kemaluanku berasa dijilat dan ketika aku melirik aku melihat Dhea dan Marsha sedang bergantian mengulum batang kemaluanku dan menjilati sisa cairan lendir tadi, kuusap kedua kepala cucuku itu yang lalu kusuruh keduanya mandi.
“Dhea.. sudah.. sayang.. sana ajak adikmu.. bersih-bersih dan mandi setelah itu kita ke Mall, beli McDonal.. ayo sayang!”
“Kek.. Dhea puas deh.. lain.. kali lagi yach Kek!”
“Asyik beli McDonal.. tapi lain kali lagi yach… Kek, perut Marsha jadi hangat.. deh.. enak..”
“Iya.. sayang.. pasti lagi.. ayo sekarang Kakek yang mandiin.”
Setelah itu kami pun mandi bertiga, sejak saat itu kedua cucuku selalu tiap malam minta coba lagi keganasan batang kemaluanku. Aku pun tersenyum bangga bahwa aku memang penakluk perempuan, walau perempuan yang aku taklukan adalah kedua cucuku yang sekarang tinggal bersamaku.
Langganan:
Postingan (Atom)